Faktor-faktor yang Mempengaruhi Peran Serta Masyarakat dalam Pembangunan

Beberapa faktor yang berpengaruh untuk membuat pendekatan peran serta masyarakat bekerja yaitu (Yeung,McGee,1986:97-99):
  • Motivasi, insentif bagi kelompok untuk bekerja sama harus ada jika interaksi dan keterlibatan ingin diberlanjutkan.
  • Kepemimpinan masyarakat, keberadaan struktur kepemimpinan dalam organisasi formal dan informal di masyarakat.
  • Kemampuan untuk melakukan Learning approach, adanya fleksibilitas untuk mencoba aktivitas dan metode baru serta memberi peluang mekanisme feedback untuk belajar dari kesuksesan dan kesalahan. Dalam hal ini masyarakat diberi hak untuk menentukan pilihannya sendiri dan menanggung konsekuensinya.
  • Sumber daya, kemampuan sumber daya di masyarakat.

Menurut Schubeler, tingkat peran serta masyarakat dalam operasi dan pemeliharaan prasarana lokal tergantung pada sikap warga dan efektifitas organisasi masyarakat. (Schubeler, 1996:66). Sedangkan menurut Sulaiman (1985:39) selain adanya kepercayaan diri, tanggung jawab sosial, peranan pemimpin, prakarsa dan kepekaan masyarakat maka salah satu unsur peran serta adalah kemauan dan kemampuan masyarakat.


Dalam Sastropoetro (1988:12-13), Gordon W. Allport berpendapat bahwa seseorang yang berperan serta sebenarnya mengalami keterlibatan egonya yang sifatnya lebih daripada keterlibatan dalam pekerjaan atau tugas saja, yang berarti keterlibatan pikiran dan perasaannya.

Sedangkan Keith Davis mengatakan bahwa peran serta adalah keterlibatan mental pikiran dan emosi/perasaan seseorang dalam situasi kelompok yang mendorongnya untuk memberikan sumbangan kepada kelompok dalam usaha mencapai tujuan serta turut bertanggung jawab terhadap usaha yang bersangkutan.

Secara teoritis, terdapat hubungan antara ciri-ciri personal individu dengan tingkat peran serta. Tentunya ciri-ciri individu tersebut yang terdiri dari usia, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, lamanya menjadi anggota dan terlibat dalam kegiatan yang dilakukan serta besarnya pendapatan (Slamet,1994:137-143) akan sangat berpengaruh pada kegiatan peran serta.

Salah satu ciri sosial dan ekonomi masyarakat berpenghasilan rendah di kota adalah pada umumnya mereka menunjukkan jiwa bersatu, kepercayaan pada diri sendiri dan kestabilan yang kuat. Orang-orang rela bekerja sama untuk menanggulangi kesulitan bersama dan dalam banyak kasus telah mengorganisasikan diri untuk menyelamatkan rumah dan masyarakat mereka. Ada suatu sikap informal dan hubungan bertetangga yang baik, yang mendukung serta memperingan beban orang-orang itu. Banyak daerah yang sangat stabil, kebanyakan keluarga sudah hidup bertahun-tahun di sana dan telah ikut membentuk kelompok gubuk-gubuk di tengah masyarakat (Taylor dalam Suparlan;1995:96). 
Dalam hal ini salah satu ciri sosial ekonomi penduduk berkaitan erat dengan lama tinggal seseorang dalam lingkungan permukiman dan lama tinggal ini akan mempengaruhi orang untuk bekerjasama serta terlibat dalam kegiatan bersama.

Ciri-ciri tersebut juga berhubungan dengan status seseorang dalam lingkungan masyarakat. Dalam lingkungan perumahan seperti disebutkan Turner (dalam Panudju,1999:10), tanpa kejelasan tentang status kepemilikan hunian dan lahannya seseorang atau sebuah keluarga akan selalu tidak merasa aman sehingga mengurangi minat mereka untuk memelihara lingkungan tempat tinggalnya. Dalam hal ini status hunian seseorang akan berpengaruh pada tingkat peran sertanya dalam kegiatan bersama untuk memperbaiki lingkungan.

Dalam masyarakat terdapat pembedaan kedudukan dan derajat atas dasar senioritas, sehingga akan muncul golongan tua dan golongan muda, yang berbeda dalam hal-hal tertentu, misalnya menyalurkan pendapat dan mengambil keputusan (Soedarno,1992:136). Faktor usia tentunya memiliki pengaruh terhadap kemampuan seseorang untuk berperan serta. Penemuan menunjukkan bahwa ada hubungan antara usia dengan keanggotaan seseorang untuk ikut dalam suatu kelompok atau organisasi. Selain itu beberapa fakta menunjukkan bahwa usia berpengaruh pada keaktifan seseorang untuk berperan serta (Slamet,1994:142).

Faktor pendidikan dianggap penting karena dengan melalui pendidikan yang diperoleh, seseorang lebih mudah berkomunikasi dengan orang luar, dan cepat tanggap terhadap inovasi. Dengan demikian dapat dipahami bila ada hubungan antara tingkat pendidikan dan peran serta. Sedangkan faktor jenis pekerjaan berpengaruh pada peran serta karena mempengaruhi derajat aktifitas dalam kelompok dan mobilitas individu.(Slamet,1994,115-116)

Besarnya tingkat pendapatan akan memberi peluang lebih besar bagi masyarakat untuk berperan serta. Tingkat pendapatan ini mempengaruhi kemampuan finansial masyarakat untuk berinvestasi. Besarnya biaya investasi yang akan dilakukan oleh masyarakat tidak semata-mata bergantung kepada kemampuan menanamkan uangnya, tetapi juga pada keuntungan dan kepuasan dari apa yang akan mereka dapatkan dari investasi tersebut. Masyarakat hanya akan bersedia untuk mengerahkan semua kemampuannya apabila hasil yang dicapai akan sesuai dengan keinginan dan prioritas kebutuhan mereka (Turner dalam Panudju,1999:77-78).

Peran serta masyarakat hanya akan terjadi bila sejumlah warga dalam unit geografi tertentu merupakan sebuah komunitas atau minimal merupakan sebuah kelompok kepentingan yang akan dilayani oleh adanya peran serta tersebut. Kelompok ini merupakan wujud dari interaksi sosial antar warga. Lebih jauh Bierens den Haan mengatakan (dalam Susanto,1999:33-37), bahwa suatu kelompok memperoleh bentuknya dari kesadaran akan keterikatan pada anggota-anggotanya. Suatu kelompok bukan merupakan jumlah anggotanya saja, akan tetapi mempunyai suatu ikatan psikologis. Adanya suatu kebutuhan psikologis manusia untuk mempunyai dan digolongkan pada suatu kelompok, tempat ia berlindung dan merasa aman. Semakin banyak orang berinteraksi semakin kuat ikatan psikologisnya dengan lingkungan di sekitarnya. Dalam hal ini semakin banyak jumlah tetangga yang dikenal maka semakin tinggi ikatan psikologisnya dengan lingkungan yang berpengaruh pada besarnya keinginan untuk terlibat dalam kegiatan bersama.

Seperti yang diuraikan dalam sub bab sebelumnya mengenai kebutuhan akan peran serta masyarakat, keterlibatan masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan akan ikut mempengaruhi ikatan psikologis masyarakat dalam berperan serta mengelola prasarana yang telah dibangunnya. Prasarana lingkungan yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan masyarakat, pada umumnya akan memberikan pengaruh positif bagi pemanfaatannya agar langsung dirasakan masyarakat, serta dapat merangsang tumbuhnya rasa ikut memiliki dari masyarakat yang pada gilirannya tumbuh kesadaran untuk memelihara, mengelola dan mengembangkan hasil-hasil pembangunan berupa perbaikan prasarana dan fasilitas tersebut (Yudohusodo dkk,1991:148).

Sebenarnyalah setiap orang bertindak dan berinteraksi dilandasi pula oleh adanya persepsi yang ia terima terhadap kegiatan peran serta. Persepsi pada hakikatnya adalah proses kognitif yang dialami oleh setiap orang di dalam memahami informasi tentang lingkungannya, baik lewat penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaaan, dan penciuman (Thoha,2002:123). Kunci untuk  memahami persepsi adalah terletak pada pengenalan bahwa persepsi itu merupakan suatu penafsiran yang unik terhadap situasi, dan bukannya suatu pencatatan yang benar terhadap situasi. Dalam persepsi terkandung penguat positif dan negatif hakekatnya memperkuat respon dan menaikkan kemungkinan terulangnya kembali di kelak kemudian hari (Thoha, 2002:56-71). Tetapi penguat positif dan negatif tersebut di dalam mencapai implikasi terhadap perilaku menempuh cara yang berbeda. Penguat positif memperkuat dan menaikkan perilaku dengan cara menghadirkan konsekuensi-konsekuensi yang diinginkan. Adapun penguat negatif di dalam rangka memperkuat dan menaikkan perilaku tersebut dengan memperhentikan atau menarik dari konsekuensi-konsekuensi yang tidak diinginkan. Pengalaman melakukan kegiatan peran serta tanpa mendapatkan manfaat langsung yang diperoleh akan mempengaruhi keinginan berperan serta di kemudian hari.

Di samping itu teori keseimbangan yang dikembangkan Theodore Newcomb menyatakan bahwa seseorang tertarik kepada yang lain untuk bertindak dan berinteraksi dapat didasarkan atas kesamaan sikap di dalam menanggapi suatu tujuan yang relevan satu sama lain. Individu A akan berinteraksi dengan individu B lantaran adanya sikap dan nilai yang sama dalam rangka mencapai suatu tujuan X. Kesamaan ini dapat berupa kesamaan pandangan mengenai siapa yang bertanggung jawab dalam suatu kegiatan. Dalam hal ini keinginan berperan serta dipengaruhi oleh kesamaan pandangan mengenai tanggung jawab dalam pengelolaan prasarana yang telah ada.

Keaktifan warga masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan bersama dipengaruhi pula oleh kepemimpinan. Dalam Thoha (2002,226-240) disebutkan bahwa pemimpin adalah seseorang yang mempunyai kekuasaan untuk mempengaruhi perilaku orang lain. Kepemimpinan kadangkala diartikan sebagai pelaksanaan otoritas dan pembuatan keputusan, lebih jauh George R. Terry merumuskan bahwa kepemimpinan adalah aktifitas untuk mempengaruhi orang-orang agar diarahkan mencapai tujuan organisasi. Untuk mengarahkan tersebut dibutuhkan adanya legitimasi berupa dukungan dari anggota terhadap kepemimpinannya. Perilaku mengarahkan tersebut dikombinasikan perilaku mendukung akan membentuk gaya kepemimpinan.

Selain itu terdapat faktor dari pemerintah yang berpengaruh terhadap peran serta masyarakat. Peran pemerintah daerah dalam membina swadaya dan peran serta masyarakat melalui pemberian penyuluhan, penyebaran informasi dan pemberian perintisan (Yudohusodo dkk,1991:148-149). Di dalam kasus “Perbaikan Kampung” investasi oleh pihak pemerintah dalam prasarana fisik telah mendorong swadaya dalam pengelolaan lingkungan yang lebih baik di daerah-daerah yang biasanya kumuh dan meningkatkan kegairahan masyarakat untuk memperbaiki rumah dan lingkungannya dalam jumlah yang cukup besar (Poerbo,1987:9). Sehingga faktor dari pemerintah yang mempengaruhi kegiatan peran serta adalah stimulan yang diberikan berupa konsultasi, material dan dana.

Dalam kegiatan peran serta dimungkinkan adanya keterlibatan pihak ketiga sebagai pendamping. Kondisi masyarakat dengan segala kesederhanaan dan keterbatasannya (wawasan, teknologi, dan ekonomi), masih memerlukan upaya-upaya pengarahan, pendampingan dan pembinaan. Selain itu adanya fasilitator untuk mengakses sumber daya yang berada di luar jangkauan masyarakat. Pengertian pihak ketiga sebagai pendamping disini adalah kelompok yang selama ini sejak lama terlibat dalam berbagai kegiatan pembangunan, baik dilakukan oleh LSM, Yayasan Sosisal, LPM-Universitas/Perguruan Tinggi, Koperasi dan bahkan perseroan (PT/CV) melalui upaya-upaya pengembangan masyarakat, membantu mensintesakan pendekatan pembangunan dari atas  dan dari bawah, membantu mengorganisir dan melaksanakan kegiatan bersama serta berbagai kegiatan selaku mediator atau katalisator pembangunan (Kusuma,1997:2-3). Secara lebih spesifik peran penting lembaga-lembaga  non pemerintah dalam pengelolaan prasarana adalah sebagai mediator, konsultan dan terkadang sebagai manajer proyek. (Schubeler, 1996:27).


Sesuai dengan pengertian pengelolaan masyarakat yang cenderung merupakan kemampuan masyarakat untuk mengontrol dan memberikan pengaruh yang kuat pada pembangunan prasarana, dan salah satu syarat bagi tumbuhnya pengelolaan oleh masyarakat adalah teknologi dan tingkat layanan yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan masyarakat (McCommon dalam UNICEF,1999:20). Maka pada akhirnya faktor yang mempengaruhi peran serta adalah karakteristik prasarana.
Karakteristik prasarana merupakan kondisi dan kinerja prasarana untuk dapat mendukung aktifitas masyarakat.  Beberapa prasarana yang secara teknis sederhana dan melayani dalam skala kecil misalnya lingkungan, dapat dikembangkan oleh organisasi masyarakat lokal dengan biaya yang langsung dikelola di tingkat lokal (Lanti dalam Sigh, et al,1997:100). Masyarakat akan berperan serta untuk memelihara dan mengelola prasarana yang telah dibangun bila mereka mendapatkan manfaat langsung dari prasarana tersebut dimana hal ini berhubungan dengan kinerja prasarana (Ndraha,1990:105).


Sumber:
Tesis Sihono, Peran Serta Masyarakat Dalam Pengelolaan Prasarana Pasca Peremajaan Lingkungan Permukiman  Di Mojosongo Surakarta (Magister Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Kota Universitas Deponegoro Tahun 2003)



Alamat Facebook File Kampus:
Post a Comment