Tipologi Tingkat Peran Serta Masyarakat dalam Pembangunan (Arstein)

Menurut Arstein (dalam Panudju,1999:69-76) tingkat peran serta masyarakat atau derajat keterlibatan masyarakat terhadap program pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah digolongkan menjadi delapan tipologi tingkat peran serta masyarakat. Secara garis besar tipologi tersebut adalah sebagai berikut:

1. Manipulation atau manipulasi
Tingkat peran serta ini adalah yang paling rendah dimana masyarakat hanya dipakai namanya sebagai anggota dalam berbagai badan penasihat advising board. Dalam hal ini tidak ada peran serta masyarakat yang sebenarnya dan tulus, tetapi diselewengkan dan dipakai sebagai alat publikasi dari pihak penguasa.



2. Therapy atau penyembuhan
Dengan berkedok melibatkan peran serta masyarakat dalam perencanaan, para perancang memperlakukan anggota masyarakat seperti proses penyembuhan pasien dalam terapi. Meskipun masyarakat terlibat dalam banyak kegiatan, pada kenyataannya kegiatan tersebut lebih banyak untuk mengubah pola pikir masyarakat yang bersangkutan daripada mendapatkan masukan dari mereka.

3. Informing atau pemberian informasi
Memberi informasi kepada masyarakat tentang hak-hak mereka, tanggung jawab dan berbagai pilihan, dapat menjadi langkah pertama yang sangat penting dalam pelaksanaan peran serta masyarakat. Meskipun demikian yang sering terjadi penekanannya lebih pada pemberian informasi satu arah dari pihak pemegang kuasa kepada masyarakat. Tanpa adanya kemungkinan untuk memberikan umpan balik atau kekuatan untuk negosiasi dari masyarakat. Dalam situasi saat itu terutama informasi diberikan pada akhir perencanaan, masyarakat hanya memiliki sedikit kesempatan untuk mempengaruhi rencana.


4. Consultation atau konsultasi
Mengundang opini masyarakat, setelah memberikan informasi kepada mereka, dapat merupakan langkah penting dalam menuju peran serta penuh dari masyarakat. Akan tetapi cara ini tingkat keberhasilannya rendah karena tidak adanya jaminan bahwa kepedulian dan ide masyarakat akan diperhatikan. Metode yang sering dipergunakan adalah survei tentang arah pikir masyarkat, pertemuan lingkungan masyarakat dan dengar pendapat dengan masyarakat.

5. Placation atau perujukan
Pada tingkat ini masyarakat mulai mempunyai beberapa pengaruh meskipun beberapa hal masih tetap ditentukan oleh pihak yang mempunyai kekuasaan. Dalam pelaksanaannya beberapa anggota masyarakat yang dianggap mampu dimasukkan sebagai anggota dalam badan-badan kerjasama pengembangan kelompok masyarakat yang anggota-anggota lainnya wakil-wakil dari berbagai instansi pemerintah. Walaupun usul dari masyarakat diperhatikan namun suara masyarakat itu sering kali tidak didengar karena kedudukannya relatif rendah atau jumlah mereka terlalu sedikit dibanding anggota dari instansi pemerintah.

6. Partnership atau kemitraan
Pada tingkat ini, atas kesepakatan bersama, kekuasaan dalam berbagai hal dibagi antara pihak masyarakat dengan pihak pemegang kekuasaan. Dalam hal ini disepakati bersama untuk saling membagi tanggung jawab dalam perencanaan, pengendalian keputusan, penyusunan kebijaksanaan dan pemecahan berbagai masalah yang dihadapi.

7. Delegated power atau pelimpahan kekuasaan
Pada tingkat ini masyarakat diberi limpahan kewenangan untuk membuat keputusan pada rencana atau program tertentu. Untuk memecahkan perbedaan yang muncul, pemilik kekuasaan yang dalam hal ini adalah pemerintah harus mengadakan tawar menawar dengan masyarakat dan tidak dapat memberikan tekanan-tekanan dari atas.

8. Citizen control atau masyarakat yang mengontrol
Pada tingkat ini masyarakat memiliki kekuatan untuk mengatur program atau kelembagaan yang berkaitan dengan kepentingan mereka. Mereka mempunyai kewenangan dan dapat mengadakan negosiasi dengan pihak-pihak luar yang hendak melakukan perubahan. Dalam hal ini usaha bersama warga dapat langsung berhubungan dengan sumber-sumber dana untuk mendapatkan bantuan atau pinjaman dana, tanpa melewati pihak ketiga.
Tipologi Tingkat Peran Serta Masyarakat dari Arnstein Sumber : Panudju 1999 diolah, 2003
Tipologi Tingkat Peran Serta Masyarakat dari Arnstein Sumber : Panudju 1999 diolah, 2003
Dari ke delapan tipologi tersebut, menurut Arnstein secara umum dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok besar, yaitu sebagai berikut :

  1. Tidak ada peran serta atau non participation yang meliputi manipulation dan therapy.
  2. Peran serta masyarakat dalam bentuk tinggal menerima beberapa ketentuan atau degrees of tokenism yang meliputi informing, consultation dan placation.
  3. Peran serta masyarakat dalam bentuk mempunyai kekuasaan atau degrees of citizen power yang meliputi partnertship, delegated power dan citizen control.


Meskipun tipologi tersebut di atas berdasarkan kasus-kasus peremajaan kota, dapat pula dipakai sebagai gambaran atau contoh pada kegiatan-kegiatan lain.

Untuk mengukur tingkat peran serta dapat dilakukan dengan mengukur tingkat peran serta individu atau keterlibatan individu dalam kegiatan bersama yang dapat diukur dengan skala yang dikemukakan Chapin dan Goldhamer (dalam Slamet,1994:82-89). Chapin mengungkapkan bahwa skala peran serta dapat diperoleh dari penilaian-penilaian terhadap kriteria-kriteria tingkat peran serta sosial yaitu :

  1. Keanggotaan dalam organisasi atau lembaga-lembaga sosial
  2. Kehadiran dalam pertemuan
  3. Membayar iuran/sumbangan
  4. Keanggotaan di dalam kepengurusan
  5. Kedudukan anggota di dalam kepengurusan.
Menurut Goldhamer untuk mengukur peran serta dengan menggunakan lima variabel yaitu :

  1. Jumlah asosiasi yang dimasuki
  2. Frekuensi kehadiran
  3. Jumlah asosiasi dimana dia memangku jabatan
  4. Lamanya menjadi anggota.
Berdasarkan skala peran serta individu tersebut maka dapat disimpulkan skala untuk mengukur peran serta masyarakat yaitu :

  1. Frekuensi kehadiran anggota kelompok dalam pertemuan
  2. Keaktifan anggota kelompok dalam berdiskusi
  3. Keterlibatan anggota dalam kegiatan fisik
  4. Kesediaan memberi iuran rutin atau sumbangan berbentuk uang yang telah ditetapkan


Sumber: Tesis Sihono, Peran Serta Masyarakat Dalam Pengelolaan Prasarana Pasca Peremajaan Lingkungan Permukiman Di Mojosongo Surakarta (Magister Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Kota Universitas Deponegoro Tahun 2003)

Alamat Facebook File Kampus:
Post a Comment