Strategi Pemerintah Malaysia dalam Pariwisata Sabah

Bagaimana strategi Pemerintah Malaysia dalam menjual pariwisata, khususnya negara bagian Sabah dapat dibaca dalam berita yang dimuat dalam detiknews (Senin, 30/07/2012 07:25 WIB), edisi Laporan dari Sabah, yang terbagi dalam dua judul asli berikut:
1. Beginilah Cara Malaysia Menjual Wisata!
2. Malaysia Rasa Yogyakarta, dari Blankon hingga Gansing
---

1. Beginilah Cara Malaysia Menjual Wisata!

Beda Jakarta, beda Malaysia. Jika Jakarta seakan-akan menyia-nyiakan Kepulauan Seribu, maka Malaysia meng-anak emas-kan pulau, meski jumlahnya hanya belasan.



Seperti saat detikcom menjelajahi Pulau Manukan yang ditempuh 15 menit menggunakan speedboat dari Kota Kinabalu, Sabah, Minggu (29/7/2012).

Pelabuhan Jesselton Point, Kota Kinabalu
Dari Bandara Kinabalu, pelabuhan Jesselton Point hanya ditempuh 10 menit kendaraan darat, tanpa macet. Usai turun, pengunjung langsung memasuki kawasan pelabuhan yang luasnya seukuran Kawasan Dermaga Ancol. Memasuki Jesselton Point hawa wisata sangat terasa dari kebersihan, tempat makan di atas dermaga tersusun rapi dan lampu yang memendar. Tidak ditemukan layaknya di Pantai Jakarta: kumuh, bau dan calo.
 Terminal penjualan tiket berdiri atas bangunan yang cukup luas dan bersih. Tidak ada calo tiket atau orang yang duduk-duduk tidak jelas. Sebanyak 20 tempat penjualan tiket beroperasi sepanjang hari dengan 3 buah meja informasi panduan.

Jika masih bingung memilah-milah tujuan pulau, pengunjung bisa membuka-buka peta wisata yang gratis. Puluhan deret bangku nyaman berada di tengah terminal serta 2 kursi pijat gratis. Jangan khawatir kehabisan tiket, sebab kapal speedboat ukuran 20 orang wara-wiri berangkat setiap 15 menit. Tiket dijual dengan harga terjangkau yaitu RM 20 PP atau yang mau mencarter speedboat seharian cukup merogoh kocek RM 150.

Usai mengantongi tiket, pengunjung tinggal jalan kaki ke dermaga dengan speedboat yang tersusun rapi telah menunggu. Bum..! Speadboat pun meluncur tanpa takut tersangkut sampah layaknya di Pantai Jakarta.

Tak sampai 15 menit, speedboat telah merapat di dermaga Pulau Manukan. Pengunjung lagi-lagi dimanjakan dermaga yang rendah sehingga wisatawan tinggal jalan kaki, tidak susah-susah naik di tangga.

Dermaga Pulau Manukan, Kota Kinabalu
(http://hersmagz.com/escape/2011/05/say-hello-to-
kinabalu-with-dieska-tanya/)
Dermaga warna cokelat tersebut memanjang sekitar 300 meter dan terhubung dengan sebuah gerbang pintu masuk. Wisatawan cukup merogoh kocek RM 10 untuk bisa menikmati pantai pasir putih seluas Pulau Pramuka di Kepulauan Seribu tersebut. Lagi-lagi wisatawan dimanjakan alur pantai yang tidak terlalu panjang sekitar 1 KM dengan pasir putih, bersih, tidak bau, dan deretan kursi di bibir pantai. Rerimbunan pohon dan taman membuat wisatawan yang enggan berenang bisa bermalas-malasan di taman pulau.

Menawarkan pasir putih, laut biru dan pohon camar, 4 pulau di bibir Sabah menjual paket wisata dengan murah dan nyaman. Jika ingin berlama-lama di pulau, wisatawan bisa merogoh kocek sedalam RM 1200 hingga RM 3000 per malam. "Mereka ingin menjual wisata pulau-pulau ini seperti di Bali. Tapi sangat jauh, di sini tidak ada sentuhan etnik nya," kata Konsul Muda Sosial-Budaya KJRI Duana Sirait.

Meski airnya tidak sebening Pulau Pari, Kepulauan Seribu, tapi paket wisata yang nyaman dan promosi besar-besaran bisa menarik wisatawan mancanegara. Selain promosi, Malaysia, khususnya Sabah juga menyiapkan sarana dan prasarana yang memanjakan wisatawan.

Jakarta dengan Kepulauan Seribu kapan? PR buat gubernur baru nanti. Sebab, Jakarta-Kinabalu jarak tempuhnya sama seperti Ancol- Pulau Pramuka yaitu 2,5 jam.

2. Malaysia Rasa Yogyakarta, dari Blankon hingga Gansing

Jalanan di kawasan kota lama Kota Kinabalu berdetak sejak pagi. Meski tak terlalu ramai, namun ratusan wisatawan mulai berjalan kaki memenuhi blok-blok jalan di tengah gedung lama. Di sini pula lah berdiri Tugu Malaysia Monument yaitu tugu peringatan bergabungnya Sabah dengan Malaysia.

Malaysia Monument, Kota Kinabalu
"Pasar Gaya ini khusus buka hari sabtu-minggu, dari pagi sampai siang," kata Dudu, konsul muda KJRI Sabah yang menemani detikcom, Minggu (29/7/2012).

Usai memasuki Malaysia Monument, air mancur berada di tengah jalanan yang cukup luas itu. Setelah itu sebuah jalan yang cukup lebar ditutup dan di isi dengan tenda bazar yang menjual berbagai aneka cindera mata. Dari baju, aksesoris hingga anak anjing.

Pasar Kota Kinabalu, Sabah


Nah bagi yang gila belanja, jangan kaget. Sebab jalan-jalan di sepanjang 500 meter ini serasa di Yogyakarta. Cinderemata gelang, anting dan kalung seperti yang dijual di Jalan Malioboro. Manik-manik atau sekedar tulisan SABAH pun seperti yang dijual di kota pelajar itu.


Ada pula topeng, hiasan dinding atau kacamata hitam. Seakan tidak percaya, ada juga blankon loh yang dijual. Bahkan gansing dari bambu pun ikut dihamparkan di atas meja.

"Kinabalu boleh dikatakan memang tidak punya budaya khas. Makanya banyak cinderamata yang diambil dari Indonesia lalu dijual lagi di sini," kata Konsul Sosial-Budaya KJRI Sabah, Iman Rokhadi.

Kain pantai pun bermotif Bali. Kain batik dan sarung di impor dari Samarinda. Bedanya, semua yang dijual di Pasar Gaya ini hanya ada 3 tulisan yaitu Malaysia, Sabah atau Kinabalu. Dari gantungan kunci, kaos hingga hiasan dinding.

"Banyak juga yang beli di Tanahabang lalu dijual lagi di sini. Mereka tinggal kirim email desain, lalu barang dikirim pakai paket dari Tanahabang," ujar Imam.

Kawasan Kota Lama Kota Kinabalu
Di salah satu suduh jalan, terdapat pemandangan unik. Sekitar 25 orang tuna netra duduk berjejer dengan memakai kacamata hitam. 

Sementara di depannya duduk para pengunjung dengan kaki menjulur ke depan orang tuna netra tersebut. Selidik punya selidik mereka merupakan tukang pijit refleksi yang tergabung dalam sebuah sarikat. Sekali refleksi dengan durasi 30 menit, dikenai tarif RM 20 atau sekitar Rp 60 ribu.






---
Berita diatas bersifat sebagai best practices & lesson learned dalam pengembangan pariwisata di Indonesia, artinya dengan membaca berita diatas akan dapat memperkaya pengetahuan, ide dan kreatifitas kita dalam pengembangan dan pembangunan pariwisata di Indonesia.
Post a Comment