Best Practices - Sistem Transportasi Satu Tiket ala Jerman


HERU FAHLEVI, dosen FE Unsyiah, mahasiswa Program Doktor pada German University of Public Administration (DHV Speyer) melaporkan dari Jerman

Salah satu rutinitas baru yang menarik bagi saya di Jerman adalah menggunakan sarana angkutan umum. Negara yang dipimpin oleh seorang wanita ini menyediakan beberapa pilihan sarana transportasi publik yang berkualitas bagi warganya. Walaupun di kota kecil setingkat kabupaten seperti Speyer, sebuah kota tua berpenduduk lebih kurang  50,000 jiwa, tidak berarti mutu pelayanan jasa transportasi kalah dari kota besar di Jerman, setidaknya dari segi kenyamanannya.

Untuk perjalanan dalam kota, bus kota menjadi pilihan utama pengguna transportasi publik di kota ini. Bus kota tersebut dikoordinir oleh pemerintah setempat dengan melibatkan perusahaan swasta sebagai penyedia layanan. Besar kecilnya ukuran bus kota disesuaikan dengan rute setiap bus. Jadwal ketibaan bus dan rute perjalanan dapat dilihat di halte-halte yang tersebar luas di setiap sudut kota. Informasi-informasi tersebut juga tersedia secara online di internet yang dilengkapi fitur bantuan pencarian rute dan bus bagi para penggunanya.



Hal paling menarik dari sistem angkutan umum tersebut adalah jenis tiket dan metode pembeliannya. Tipe tiket bus kota tersedia berbagai macam, seperti tiket sekali jalan (1,9 Euro), harian (sekitar 5 Euro) dan bulanan (sekitar 50 Euro). Bagi turis yang ingin berpergian dalam tenggang waktu tertentu dapat membeli tiket harian yang harganya lebih ekonomis dibandingkan jika membeli beberapa tiket sekali jalan.

Sebaliknya, bagi penduduk setempat yang rutin berpergian dapat membeli tiket bulanan yang harganya lebih murah secara kumulatif ketimbang tiket sekali jalan. Tiket-tiket tersebut dapat dibeli di kantor pelayanan penduduk (Burgerbüro), stasiun kereta api ataupun langsung pada sopir bus.

Uniknya lagi, beberapa jenis tiket harian berlaku tidak hanya untuk bus, melainkan juga untuk kereta api, tram (kereta listrik kota) bahkan kapal (seperti di Hamburg). Bagi pemegang kartu tahunan berhak mendapatkan layanan taksi malam tanpa dikenakan biaya tambahan sebagai pengganti jika bus umum tidak beroperasi lagi.

Untuk perjalanan antarkota, kereta api menjadi sarana transportasi utama di Jerman. Setidaknya ada tiga tipe kereta api di Jerman, yaitu ICE (Inter-City Express), IC (Inter-City), RE (Regional Bahn) dan S (Straße) Bahn. ICE dan IC merupakan kereta api cepat yang melayani kota-kota besar di Jerman. Sedangkan RE dan S Bahn adalah kereta api ekonomis atau kereta api rakyat yang lebih lambat dan banyak halte/stasiun pemberhentiannya.

Sistem tiket kereta api di Jerman juga sangat mengesankan. Bagi mahasiswa seperti saya, tiket harian Sabtu atau Minggu (Schönes Wochenende-Tiket) merupakan tiket favorit karena dengan harga 1 tiket (39 Euro) saya bisa berpergian secara kelompok maksimal lima orang ke mana saja dalam wilayah Jerman. Tiket harian akhir pekan tersebut juga berlaku untuk bus dan kereta api dalam kota pada sebagian besar kota-kota besar di Jerman. Bagi para pengguna “rutin” (commuter) kereta api di Jerman biasanya membeli tiket tahunan dan kartu diskon yang dapat memangkas biaya perjalanan secara signifikan.

Setiap transportasi umum di Jerman memiliki standar kenyamanan yang sama. Peraturan dilarang merokok, keamanan kendaraan, dan ketenangan dalam perjalanan menjadi tolok ukur yang harus dipenuhi dalam memastikan kenyaman penumpang.

Pada kasus pembatalan kereta api yang tidak terjadwal atau mendadak, Deutsche Bahn menyediakan bus pengganti gratis sehingga penumpang dapat melanjutkan perjalanannya sesuai rencana.

Pada umumnya kereta api di Jerman memiliki toilet dan gerbong khusus bagi penumpang yang membawa sepeda. Mesin tiket juga tersedia di beberapa kereta api, sehingga bagi penumpang yang belum memiliki tiket dapat membelinya di mesin tersebut.

Tiket tersebut harus disimpan selama perjalanan karena petugas pengecek tiket akan datang untuk memeriksa tiket. Jika pada saat pemeriksaan tiket berlangsung dan penumpang tak bisa menunjukan tiket yang valid apa pun alasannya, maka siap-siap saja untuk membayar denda tidak kurang dari 40 Euro. Semoga suatu saat nanti  transportasi publik terpadu dan berkualitas tinggi seperti di Jerman ini bisa kita nikmati di Aceh.



Sumber: http://aceh.tribunnews.com
Post a Comment