Home Industry Taiwan yang Menginspirasi


OLEH MUHAMMAD ARIFAI, Peserta Bridging Phd Program Batch 2 Dikti, Dosen Politeknik Negeri Lhokseumawe, melaporkan dari Taiwan

MEMASUKI minggu kedua Bridging Master and Phd Program yang disponsori Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti) RI, kami berkesempatan menghadiri Taiwan Exhibition, Souvenir, and Handycraft Industry Show di Taipei World Trade Center. Letaknya bersebelahan dengan Tower 101, gedung kedua tertinggi di dunia.

Kegiatan itu berlangsung 25-28 April 2013. Diikuti lebih dari 200 pelaku industri souvenir dan handycraft (kerajinan tangan) level dunia.



Ajang ini sangat menarik, karena tak hanya menampilkan berbagai hasil produk industri rumah tangga (home industry), tetapi juga mengusung konsep keterbukaan terhadap pasar internasional di Asia dan Eropa.

Setelah diwajibkan mendaftar sebagai tamu internasional untuk survei produk, kami diperbolehkan memasuki ruangan.

Geliat ekonomi rumah tangga langsung terasa ketika kami masuki arena eksibisi. Even ini secara langsung menggambarkan besarnya sumbangan industri rumah tangga terhadap pendapatan asli Taiwan.

Sajian produk dengan harga terjangkau dan masih lebih murah dibandingkan dengan di Indonesia, sangat menggoda kami untuk berburu handycraft yang unik dan menarik.

Hampir 80% produk yang ditampilkan merupakan hasil kerajinan home industry yang dikemas secara modern dan diproduksi secara higienis. Namun demikian, sebagai muslim kami juga sangat hati-hati khususnya terhadap produk makanan yang mengandung bahan olahan babi atau diistilahkan dengan pork, ham, lard, swine, chorizo, dan lainnya dalam produksi yang dipamerkan. Dengan memastikan kandungan produksi tersebut aman dari kandungan babi olahan, kami dapat dengan mudah mencoba produk yang disajikan.

Meski keberadaan Taiwan sebagai salah satu Provinsi Cina masih terus dipersengketakan, namun hal ini bagai tak menghalangi langkah negeri itu melanjutkan pembangunan ekonomi berbasis industri rumah tangga.

Peran serta asosiasi industri di Taiwan malah sangat kuat dalam mengorganisir keberlanjutan dan keberpihakan pemerintah di sektor industri rumah tangga serta tidak terpengaruh oleh situasi politik. Beberapa asosiasi ikut dalam kegiatan ini, seperti Taiwan Confectionery, Biscuit dan Food Industry, Taiwan Association of Stationery Industries, Taiwan Gift and House Ware Exporters Association, Taiwan Toy and Children’s Article Manufactures Association, serta Taiwan Bags Association.

Sejarah panjang negeri Cina yang terkenal dengan berbagai macam produksi rumah tangga seperti benda yang terbuat dari kaca, kristal, keramik, logam, serta makanan olahan seperti bakpao, bakso, mi, dan lainnya mampu terus dipertahankan melalui transfer teknologi yang mendukung industri. Selain itu, peran universitas juga disinkronkan untuk mendukung teknologi sederhana yang bernilai guna.

Kebetulan kami ditempatkan di Universitas Yuntech Science and Technology, universitas terkemuka dalam desain produk dan manajemen industri. Banyak industri yang telah bekerja sama dengan universitas ini dalam merancang kemasan dan transfer teknologi serta penguatan sistem manajemen industri, seperti industri sepeda, alat olah raga, dan medis.

Begitu banyak pengalaman menarik yang terkait dengan industri rumah tangga yang kami dapatkan setelah saya, Alfian Putra, dan T Riyadh (semuanya dosen Politeknik Negeri Lhokseumawe) bersilaturahmi dengan Pimpinan Kantor Dagang dan Ekonomi (KDEI) Taiwan.

Dengan meningkatnya jumlah warga muslim di Taiwan tentunya membuka peluang kerja sama dengan asosiasi industri di Aceh, khususnya barter produk berlabel halal food, di samping peluang impor barang yang berharga murah dan berkualitas ke dalam negeri.

Semoga informasi dan peluang ini mampu mendorong peranan asosiasi di Aceh seperti Kadin, Dekopinwil, Dekopinda, dan asosiasi lainnya dalam memperjuangkan kuantitas dan kualitas produksi industri rumah tangga di Aceh yang masih jauh tertinggal.


Sumber: http://aceh.tribunnews.com

Post a Comment