Sejarah Kota Surabaya

Surabaya pada waktu pergantian Abad 16-17 merupakan suatu kerajaan dengan daerah pengaruh yang cukup luas, meliputi Bang Wetan dan sebagian Kalimantan sampai Ambon. Surabaya sudah ada sekitar Tahun 1365 dan merupakan kelompok kampung di Muara Kalimas. Meskipun bukti tertulis tertua mencantumkan nama Surabaya berangka Tahun 1358 M (Prasasti Trowulan) dan 1365 M (Nagara Kartagama), tetapi para ahli menduga bahwa Surabaya sudah ada sebelum tahun-tahun itu. Pada abad ke-16 dan ke-17, Surabaya telah mempunyai tembok keliling kota, namun satu abad kemudian tembok kota sebagian telah rusak berat, sehingga terpaksa dibongkar dan dibangun yang baru, karena tanpa adanya tembok itu Kota Surabaya menjadi terbuka dari berbagai arah.



Sejarah Kota Surabaya, Tembok Kota Surabaya 1857
Sejarah Kota Surabaya, Tembok Kota Surabaya 1857

Seperti yang diceritakan oleh N.Van Meeteran Brouwer dalam Tjiptoatmodjo (1983: 244), yang mengunjungi Kota Surabaya pada Tahun 1825 membuat catatan sebagai berikut:

“Pada tanggal 21 Juni 1825 saya tiba di Kota Surabaya yang terletak di tepi sungai yang bagus. Kota ini terbuka dari berbagai arah. Jalan-jalan pada umumnya lebar, rata dan berpagar. Rumah-rumah kebanyakan dibuat dari bambu, yang ditutup dengan atap atau ilalang. Di sepanjang jalan terdapat pohon-pohon bambu, pisang, kelapa, pinang dan lainnya”.

Selanjutnya, mulailah dilakukan pembangunan tembok sebelah Utara yang terjadi pada Tahun 1782. Namun akibat dari adanya pembangunan tembok baru itu mengakibatkan penduduk pribumi yang bertempat tinggal di sekeliling perkampungan orang Eropa, Cina dan Melayu menjadi tersisih ke luar. Hal ini berarti, bahwa perkampungan pribumi tergeser ke luar dari tembok kota (Tjiptoatmodjo,1983:245).

Di era kolonial Belanda, Kota Surabaya mengalami pembangunan secara besar-besaran sekitar Tahun 1900-an. Belanda merencanakan dan merancang dengan massal seluruh fasilitas-fasilitas penunjang sebuah kota, pada masa-masa ini Belanda banyak memberikan kontribusi bagi perkembangan kota baik dari segi fisik bangunan, maupun dari segi peraturan dan manajemen perkotaan.

Menurut J. Hageman dalam Tjiptoatmodjo (1983:244), Kota Surabaya waktu itu dibagi menjadi tiga bagian, yaitu perkampungan Eropa, Cina dan Melayu, sedangkan perkampungan pribumi letaknya terpencar di sekitar perkampungan-perkampungan itu. Perkampungan Eropa dikelilingi dinding tembok tipis yang di beberapa tempat, tingginya hanya lima sampai enam kaki, terletak memanjang di tepi Kali Mas dari Selatan ke Utara, di bagian Barat berbatasan dengan kampung-kampung Jawa di antaranya, yaitu Kampung Pekalongan, Gatotan, Krembangan, Karamat Ujung, Pesapen, Kalisasak, Dapuan, Tambak Gringsing, Kebalen dan Petukangan. Perkampungan Cina, Melayu dan Madura terletak di sepanjang sisi Timur Kali Mas. Kampung Melayu terletak di sebelah Utara Kampung Cina. Kedua perkampungan ini di sebelah Timur berbatasan dengan perkampungan orang Jawa. Di dekat Kampung Melayu terdapat pasar besar yang cukup luas dengan bangunan beratap dan tiangnya terbuat dari batu bata. Perkampungan Jawa terbagi menjadi dua bagian oleh aliran Kali Pegirian yang merupakan cabang delta dari Kali Mas. Kampung-kampung yang berada di sebelah Barat Kali Pegirian berturut-turut dari Selatan ke Utara adalah: Kampung Clompretan, Belakan Kidul, Wanakesuma, Belakan Lor, Pecantian, Gili (semuanya terletak di sebelah Timur Kampung Cina), Pasar Paseban, Pesawanan, Baru, Ketapan, Ngampel, Kapuran, Pencarian, Nyamplungan dan Girian (semuanya terletak di sebelah Timur Kampung Melayu).

Pada waktu itu, batas-batas Kota Surabaya ditetapkan dengan Keputusan Pemerintah (Gouvernement Besluit) tertanggal Oktober 1831 No. 17, yang kemudian diatur kembali dengan keputusan tertanggal 30 September 1835 No. 15, batas kota ditandai dengan dinding-dinding tembok dan berukuran kira-kira 1,9 x 1,3 x 1 km2 = 2,47 km2 (Tjiptoatmodjo, 1983: 246).

Pusat Kota Lama Surabaya
Pada awal abad ke-19, Kota Surabaya yang dahulu bernama Hujung Galuh, berpusat di sekitar muara Kali Mas, dengan pola perkembangan berbentuk pita, mengikuti daerah pinggiran Kali Mas dan Pegirian. Hal ini menunjukkan, bahwa sejak dulu masyarakat Kota Surabaya sangat tergantung dengan keberadaan sungai dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini diperkuat dengan bukti-bukti sejarah yang di antaranya menyebutkan (Handinoto,1996: 20):

“...Di bawah kekuasaan Trunojoyo inilah Surabaya yang sebelumnya di bawah kekuasaan Mataram dan kemudian dirusak oleh orang-orang Makasar, mulai bangkit. Surabaya menjadi suatu pelabuhan transit dan tempat penimbunan barang-barang dari daerah yang subur, yaitu Delta Berantas, salah satu bagian yang paling subur dan juga paling padat penduduknya di Pulau Jawa. Letak Surabaya yang strategis ini mengakibatkan bangsa-bangsa yang gemar berlayar dari Timur ke Barat bertemu. Kali Mas serta merta menjadi suatu “sungai emas” yang membawa barang-barang berharga dari pedalaman. Pelayaran dan perdagangan membuat Kota Surabaya menjadi besar...”

Hal itu menjadikan Belanda ingin merebut daerah “emas” ini. Kota Surabaya yang akhirnya jatuh ke tangan Belanda pada Tahun 1743 terus mengalami perkembangan. Pola pengembangan yang dilakukan pemerintah Kolonial Belanda sangat memperhatikan potensi yang sudah ada. Hal ini terlihat bagaimana bangunan-bangunan kuno yang sekarang ada tertata pada suatu orientasi ke muka Sungai Kali Mas. Sumber-sumber sejarah menunjukkan, bahwa pemekaran Kota Surabaya menjurus dari arah Utara ke Selatan. Bagian kota lama terletak di sebelah Utara dan kota baru terletak di sebelah Selatan. P. Bleeker dalam catatan perjalanannya juga menyebutkan bahwa kota lama terletak di sebelah Utara kota baru. Di sebelah Utara kota lama antara tembok kota dan labuhan terdapat tanah-tanah rawa. Di tengah-tengah daerah berawa inilah mengalir Kali Mas ke arah Utara menuju muaranya. Citadel (benteng) Prins Hendrik yang berbentuk segi empat terletak di ujung Utara kota lama di tepi Timur Kali Mas. Citadel ini berada pada jarak kurang lebih 1 pal  (1 pal = 1.507m) dari laut. Tembok kota memanjang dari sisi-sisi Citadel mengelilingi kota lama dari arah yang berlawanan untuk kemudian bertemu lagi di bagian Selatan kota pada Kali Mas. Kota baru yang terletak di sebelah Selatan kota lama, mempunyai batas kota mulai dari dekat alun-alun, kira-kira setengah pal sebelah Selatan dari rumah residen Surabaya. Menurut P. Bleeker, batas kota baru lebih besar bila dibandingkan dengan kota lama dan memilikinya banyak penduduk, namun perumahan mereka tidak berdesak-desakan seperti tempat tinggal penduduk yang ada di dalam tembok kota lama Surabaya (Tjiptoatmodjo,1983:246).
Sejarah Kota Surabaya, Foto Udara Kota Surabaya 1930
Sejarah Kota Surabaya, Foto Udara Kota Surabaya 1930

Sejarah Kota Surabaya, Jl. Pahlawan 1930
Sejarah Kota Surabaya, Jl. Pahlawan 1930

Sejarah Kota Surabaya, Kaliasin 1932
Sejarah Kota Surabaya, Kaliasin 1932

Kota Surabaya mengalami puncak perkembangannya sekitar Tahun 1900-an. Kota Surabaya telah memiliki beberapa fasilitas kota yang baik, di antaranya theater, taman terbuka, kantor pemerintahan, pusat perdagangan, sarana dan prasarana transportasi dan sebagainya. Pusat kota lama Surabaya pada waktu itu terletak di sekitar Jembatan Merah, menurut Handinoto (1996: 53):

“...sejak jaman Deandels Tahun 1811, pusat Surabaya terletak di depan Jembatan Merah, dimana terletak kantor residen serta kantor pemerintah yang lain, seperti Kantor Bea Cukai, Kantor Kepolisian dan lain-lain. Kantor-kantor ini terletak di dalam satu gedung. Di sekitar gedung itu terletak sebuah lapangan terbuka yang dinamakan Willemsplein (sekarang Taman Jayengrono). Sampai Tahun 1905 pusat Kota Surabaya masih tetap berlokasi di sekitar Jembatan Merah. Kantor Residen berhadapan dengan Jembatan Merah. Jadi kalau kita berjalan dari arah Jalan Kembang Jepun (dulu namanya Handelstraat), bangunan Kantor Residen itu terlihat sebagai focal point. Di sekitar pusat pemerintahan itu kemudian muncul kegiatan perdagangan, terutama di daerah Jalan Rajawali (dulu namanya Heerenstraat). Setelah Tahun 1900-an daerah perdagangan ini meluas ke Selatan dan Timur, sampai Jalan Kembang Jepun..,”


Daftar Pustaka:
Handinoto, 1996. Perkembangan Kota Surabaya 1870-1940, Andi, Yogyakarta.
Virgiani, 2002. Penataan Kawasan Konservasi Kembang Jepun Surabaya, Skripsi Universitas Brawijaya, Malang.
Tjiptoatmodjo, 1983. Kota-Kota Pantai di Sekitar Selat Madura (Abad XVII sampai Abad XIX), Gajah Mada University Press,Yogyakarta.
Post a Comment