Teori Partisipasi Masyarakat

Partisipasi dapat diartikan sebagai keikutsertaan, keterlibatan dan kebersamaan masyarakat dalam suatu kegiatan tertentu baik langsung maupun tidak langsung dan dilakukan secara sadar, tanpa ada unsur paksaan.
Menurut Muhadjir (1980), berdasarkan tingkatannya, partisipasi terdiri atas empat jenis, yaitu :



  1. Keterlibatan individu dalam proses pembuatan keputusan
  2. Keterlibatan individu dalam pelaksanaan program 
  3. Keterlibatan individu dalam menikmati hasil dari kegiatan
  4. Keterlibatan dalam evaluasi.

Senada dengan hal tersebut, Rukmana (1987) memperjelas pendapat tersebut bahwa partisipasi masyarakat sangat diperlukan dalam pembangunan berdasarkan :
(1) Masyarakat berhak untuk ikut terlibat dalam hal-hal yang menyangkut dengan kehidupan mereka, berhak terlibat dalam keputusan-keputusan dan keberadaan mereka sehari-hari dan untuk masa depan mereka;
(2) Jika masyarakat diberi kesempatan untuk terlibat secara aktif dalam pembangunan, dapat diperkirakan jalannya pembangunan akan berlangsung lebih efisien dan efektif, sehingga terjadi peningkatan kualitas atau pemanfaatan atau pemeliharaan prasarana lingkungan secara lebih optimal.

Peran serta masyarakat tersebut jika dikaitkan dengan perencanaan maka perencanaan yang telah disusun dan ditetapkan tidak akan dapat terlaksana dengan hasil yang maksimal dan memuaskan tanpa adanya keterlibatan masyarakat atau partisipasi masyarakat.  Partisipasi masyarakat merupakan salah satu sarana untuk mencapai pemberdayaan masyarakat dalam proses pembangunan masyarakat desa maka unsur partisipasi masyarakat merupakan hal yang penting karena dengan partisipasi masyarakat akan tercipta suasana menunjang bagi terciptanya pemberdayaan masyarakat.

Faktor yang Mempengaruhi Partisipasi
Namun perlu pula disadari bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi partisipasi masyarakat tersebut. Menurut Sutrisno (1995), faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Kemiskinan, hal ini menyebabkan keterbatasan waktu dan tenaga untuk menghadiri pertemuan-pertemuan serta tidak memperhatikan  lingkungan.
  2. Kurangnya pengetahuan dan kemampuan yang efektif yang dapat menggerakkan masyarakat disuatu lingkungan.
  3. Lemahnya rasa kebersamaan (khususnya dilingkungan yang masih relatif baru dan elit).
  4. Tidak adanya antusiasme terhadap partisipasi masyarakat karena adanya pengalaman-pengalaman yang mengecewakan pada masa lalu.
  5. Terdapat perbedaan kepentingan dan keengganan untuk mengutarakan pendapat.
  6. Tidak adanya kesadaran bahwa masyarakat dan individu mempunyai hak untuk berpartisipasi.



Daftar Pustaka:
Rukmana N., 1987, Manajemen Pembangunan Prasarana Perkotaan, LP3ES, Jakarta..
Post a Comment