Pengertian dan Konsep Evaluasi

Pengertian Evaluasi
Sebagai salah satu fungsi manajemen, evaluasi merupakan rangkaian  kegiatan berurusan dan berusaha untuk mempertanyakan efektifitas dan efesiensi dari suatu rencana, sekaligus mengukur secara obyektif hasil-hasil pelaksanaan kegiatan dengan ukuran-ukuran yang dapat diterima oleh pihak-pihak yang mendukung atau tidak mendukung suatu rencana.

Pengertian Evaluasi menurut Bryant dan White(1987)
Evaluasi adalah upaya untuk mendokumentasikan dan melakukan penilaian tentang apa yang terjadi dan juga mengapa hal itu terjadi dan juga untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keadaan tersebut. Dengan kata lain evaluasi adalah upaya untuk mengetahui apakah ada hubungan antara program yang dilaksanakan dengan hasil yang dicapai serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.



Pengertian Evaluasi menurut Firman dan Martin (1989)
Evaluasi  adalah suatu usaha mengukur dan memberi nilai secara obyektif pencapaian hasil-hasil yang telah direncanakan  sebelumnya, dimana hasil-hasil evaluasi dimaksud akan menjadi umpan balik untuk perencanaan kembali. Evaluasi dalam hal ini merupakan bagian dari tiap penyusunan program dan sebagaian besar datanya harus didapatkan dari laporan pimpinan proyek (pelaksana) dan pemeriksaan langsung dilapangan (Evaluasi fisik).

Pengertian Evaluasi menurut Kartasamita (1996)
Evaluasi bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh pembangunan telah dilaksanakan dan bagaimana hasilnya diukur dengan sasaran yang akan dicapai dan atas dasar hasil evaluasi dapat diambil langkah-langkah agar pelaksanaan pembangunan selanjutnya menunjang dan tidak merugikan pembangunan secara keseluruhan.

Dari pendapat-pendapat tersebut maka dapat ditarik suatu pengertian bahwa evaluasi merupakan suatu upaya untuk mengetahui seberapa efektif dan efesien suatu pembangunan yang dilaksanakan yang diukur dengan sasaran yang akan di capai dengan penilaian  seobyektif mungkin pencapaian hasil-hasil dari perencanaan sebelumnya.  Hasil dari evaluasi menjadi umpan balik untuk perencanaan selanjutnya kearah pelaksanaan yang lebih baik. Sedangkan  salah satu alat ukur yang berupa data dapat diambil dari laporan pimpinan proyek  dan pemeriksaan langsung pada kondisi empirik.

Konsep dan Penerapan Evaluasi
Selanjutnya Dunn (1999), mengemukakan bahwa evaluasi mempunyai arti yang berhubungan masing-masing menunjuk pada aplikasi beberapa skala nilai terhadap hasil kebijaksanaan  dan program. Dalam arti yang lebih spesifik, evaluasi berkenaan dengan produksi informasi mengenai nilai atau manfaat hasil kebijaksanaan dan program.
Menurut Dunn (1999),  pada umunya ada tiga cara pelaksanaan evaluasi yaitu;

  1. Membandingkan fakta atau keadaan yang diperoleh dari pengamatan dan penelitian dengan sasaran yang ingin di capai oleh suatu program.
  2. Membandingkan sebagian hasil program dalam kaitannya dengan input  yang digunakan, misalnya kemajuan suatu daerah yang telah melaksanakannya suatu program pembangunan daerah dengan kemajuan daerah lain yang akan melaksanakan program sejenis.
  3. Membandingkan perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu di tempat yang sama sebagai hasil pelaksanaan suatu program tertentu.


Jones dalam Apoda (2001), mengkhususkan evaluasi untuk melihat manfaat program dan proses pemerintahan, namun untuk suatu proyek maka evaluasi dan pemantauan merupakan suatu alat kontrol secara berkala dengan konsisten yang dalam operasional dapat menunjukan besarnya nilai manfaat serta perubahannya dari suatu aktifitas perubahannya . Dengan demikian hasil pelaksanaan suatu program dapat di evaluasi dengan melibatkan masyarakat pengguna ( mendukung atau tidak mendukung ) untuk mendapatkan legitimasi (pengakuan) atas tingkat pengguna dari hasil pelaksanaan program /proyek.

Beberapa Konsep dalam Evaluasi menurut Tayibnapis (2000) adalah sebagai berikut :
1.  Evaluasi Formatif dan Sumatif
Scriven dalam Tayibnapis (2000) yang pertama-tama membedakan evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Menurut dia evaluasi formatif merupakan evaluasi yang dilaksanakan selama program berjalan untuk memberikan informasi yang berguna kepada pemimpin program untuk perbaikan program  sedangkan evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilakukan pada akhir program untuk memberi informasi kepada konsumen yang potensial tentang manfat atau kegunaan program.  Evaluasi formatif harus mengarah kepada keputusan tentang perkembangan program termasuk perbaikan, revisi, dan semacam itu sedangkan evaluasi sumatif mengarah kepada keputusan tentang kelanjutan program, berhenti atau program diteruskan, pengadopsian dan selanjutnya.

2. Evaluasi Internal dan Evaluasi Eksternal 
Evaluasi internal adalah evaluasi yang dilakukan oleh evaluator dari dalam sedangkan evaluasi eksternal adalah evaluasi yang dilakukan oleh evaluator dari luar program. Pada evaluasi internal, evaluator  tentu mengetahui lebih banyak tentang programnya daripada orang luar, tetapi juga sering kurang mengetahui atau tidak mengetahui hal-hal penting dan kritis sedangkan pada evaluasi eksternal, evaluator seringkali menangkap hal-hal penting yang tidak diketahui secara internal.
Jadi evaluasi yang  akan dijadikan sebagai landasan teori dalam penelitian ini adalah upaya untuk mengumpulkan informasi tentang proses pelaksanaan dan output yang dicapai dari pelaksanaan program tersebut.

Evaluasi suatu program  merupakan suatu  penilaian terhadap aplikasi berupa skala nilai  efektifitas suatu kebijaksanaan dan program. Dalam penelitian ini, evaluasi  dilaksanakan dengan  membandingkan fakta atau keadaan yang diperoleh dari pengamatan dan penelitian dengan sasaran yang ingin di capai oleh suatu program. Berdasarkan modul satu Perencanaan Anggaran Daerah dalam Herman Mayori (2002) dijelaskan masing-masing pengukuran efektifitas tersebut, yaitu :
1. Indikator input
Mengukur sumberdaya yang diinvestasikan dalam suatu proses program maupun aktivitas untuk menghasilkan keluaran (output maupun outcome). Indikator ini mengukur jumlah sumberdaya seperti anggaran, sumberdaya manusia, informasi, peraturan/kebijakan yang digunakan untuk kegiatan.

2. Indikator output.
Mengukur output yang dihasilkan dari suatu kegiatan, baik berupa fisik maupun non fisik.

3. Indikator outcome.
Segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya output (efek langsung) pada jangka pendek dan menengah. Informasi yang dibutuhkan untuk mengukur outcome seringkali tidak lengkap dan tidak mudah diperoleh.

4. Indikator Benefit.
Menggambarkan manfaat yang diperoleh dari indikator outcome. Manfaat tersebut pada umumnya tidak segera tampak. Indikator benefit menunjukkan hal-hal yang diharapkan untuk dicapai bila output dapat diselesaikan dan berfungsi dengan optimal.

5. Indikator Impact.
Memperlihatkan pengaruh yang ditimbulkan dari benefit yang diperoleh. Seperti halnya dengan indikator benefit, indikator impact juga baru dapat diketahui dalam jangka waktu menengah dan jangka panjang.

Berkaitan dengan evaluasi kegiatan program/proyek yang berorientasi pada pembangunan masyarakat (Community development), menurut Setiawan (2003) ada tiga kriteria evaluasi yang dapat dilakukan yaitu:
1. Sustainability/keberlanjutan/kelangsungan program/proyek.
Pada aspek ini evaluator dapat mengkaji: (1) apakah proyek dilanjutkan oleh komunitas; (2) apakah ada multiplier effect dari proyek tersebut; (3) apakah telah terjadi transfer of knowldege/technologi; dan (4) apakah telah terjadi pengembangan kapasitas komunitas (Capacity building).

2. Replicability/kemungkinan dikembangkan di tempat (seting) lain.
Pada aspek ini evaluator dapat mengkaji hal-hal sebagai berikut: (1) apa situasi-situasi spesifik kasus; (2) apa situasi/kondisi umum kasus; dan (3) prasarat dasar apa agar dapat dikembangkan ditempat lain.

3. Dampak  pemberdayaan (Empowerment)  secara keseluruhan.
Dalam hal ini meliputi: (1) siapa yang diberdayakan; (2) dalam aspek apa diberdayakan; dan (3) intensity yaitu tingkat kewenangan masyarakat untuk melakukan kontrol terhadap pengelolaan program/proyek atau diwujudkan dalam bentuk kemitraan.


Daftar Pustaka:
Apoda, 2001, Faktor-faktor yang Mempengaruhi Partisipasi Masyarakat dan Hubungannya dengan Keberhasilan Program Pengentasan Kemiskinan. Universitas Brawijaya, Malang.
Bryant C. and White LG., !987, Manajemen Pembangunan Untuk Negara Berkembang, LP3ES, Jakarta.
Firman dan Martin, 1984, Perencanaan dan Evaluasi Untuk Negara Berkemang, LP3ES, Jakarta.
Ginanjar Kartasasmita, 1996, Pembangunan Untuk Rakyat : Memadukan Pertumbuhan dan Pemerataan. PT. Pustaka Cidesindo, Jakarta.
Dunn, William N., 1999, Analisis Kebijakan Publik, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Tayibnapis, F.Y, 2000, Evaluasi Program, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta
Setiawan, Bakti, 2003, Pembangunan Masyarakat dan Perencanaan Partisipatif, Konsep Dasar dan Faktor-Faktor Kesuksesan, Makalah pada Pelatihan Participatory Planning, MPKD UGM Bekerjasama dengan Bali Urban Infrastructure Programme (BUIP).
Post a Comment