Konsep Evaluasi

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, evaluasi adalah penilaian hasil. Bryant dan White (1989) mendefinisikan evaluasi adalah upaya untuk mendokumentasikan dan menilai tentang apa yang terjadi dan mengapa hal itu terjadi atau dengan kata lain evaluasi adalah upaya untuk mengetahui hubungan atau kaitan-kaitan antara program yang dilaksanakan dengan hasil yang dicapai.

Secara sederhana dikatakan bahwa evaluasi adalah mengunpulkan informasi tentang keadaan sebelum dan sesudah pelaksanaan suatu program. Sedangkan menurut Scriven (1967), Glas (1969) dan Stufflebeam (1974) dalam Tayibnapis (2000) evaluasi adalah penilaian atas manfaat atau guna.



Selanjutnya menurut Joint Committee (1981) dalam Tayibnapis (2000) evaluasi adalah penelitian yang sistematik atau yang teratur tentang manfaat atau guna beberapa objek. Dan menurut Dunn (2003) evaluasi mengungkapkan seberapa jauh tujuan-tujuan dan target tertentu telah dicapai. Di bagian lain Bryant dan White (1989) mengemukakan studi evaluasi dapat menimbulkan ketegangan, karena suatu organisasi mempunyai maksud dan kegunaan lain terhadap suatu proyek disamping pencapaian tujuannya. Berkaitan dengan hal tersebut dia merumuskan kendala-kendala dalam melakukan evaluasi, sebagai berikut:

  1. Psikologis; dimana evaluasi dapat menjadi ancaman, karena orang melihat evaluasi sebagai sarana mengkritik orang lain atau mengungguli kekuasaan lain.
  2. Ekonomis; dimana evaluasi yang baik itu mahal dalam segi waktu dan uang dan agar tersedia lebih banyak data tidak selalu sepadan dengan tingginya biaya itu.
  3. Teknis; dimana penanganan data menuntut tersedianya sumberdaya manusia yang terlatih dan mempunyai kemampuan dalam pengolahan data.
  4. Politis; dimana hasil-hasil evaluasi bila diungkapkan akan memalukan secara politis.


Lebih jauh Dunn (2003) membedakan beberapa pendekatan dalam evaluasi, yaitu :

  1. Evaluasi semu (Pseudo Evaluation) yaitu pendekatan yang menggunakan metode-metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang valid dan dapat di percaya mengenai hasil kebijakan, tanpa berusaha untuk menanyakan tentang manfaat atau nilai dari hasil-hasil tersebut terhadap individu, kelompok atau masyarakat secara keseluruhan. Asumsi utamanya adalah ukuran tentang manfaat atau nilai merupakan sesuatu yang dapat terbukti sendiri atau tidak kontroversial.
  2. Evaluasi formal (Formal Evaluation) yaitu pendekatan yang menggunakan metode deskriftif untuk menghasilkan informasi yang valid dan dapat dipercaya mengenai hasil-hasil kebijakan tetapi mengevaluasi hasil tersebut atas dasar tujuan program kebijakan yang telah diumumkan secara formal oleh pembuatnya. Asumsi utamanya yaitu bahwa tujuan dan target diumumkan secara formal adalah merupakan ukuran yang tepat untuk manfaat atau nilai kebijakan program. Pada evaluasi ini terdapat dua tipe evaluasi yaitu evaluasi sumatif yang merupakan usaha untuk memantau pencapaian tujuan dan target formal setelah suatu program diterapkan untuk waktu tertentu dan evaluasi formatif yang merupakan usaha yang secara terus menerus memantau pencapaian tujuan-tujuan dan target formal.
  3. Evaluasi Keputusan Teoritis (Decision Theoritic Evaluation) yaitu pendekatan yang menggunakan metode deskriptif untuk menhasilkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan dan valid mengenai hasil-hasil kebijakan yang secara eksplisit dinilai oleh berbagai macam pelaku kebijakan. Evaluasi ini berusaha untuk memunculkan dan membuat eksplisit tujuan dan target dari pelaku kebijakan baik yang tersembunyi atau dinyatakan.


Di bagian lain Dunn (2003) mengemukakan ada 2 tipe evaluasi yaitu (1) Summative Evaluation adalah penilaian dampak dari suatu program (outcomes evaluation); (2) Formative Evaluation adalah penilaian terhadap proses program atau disebut evaluasi proses. Selanjutnya dia menjelaskan bahwa evaluasi sumatif adalah tipe evaluasi resmi yang meliputi pemantauan usaha untuk mencapai tujuan dan sasaran formal setelah suatu kebijakan atau program diterapkan dalam kurun waktu tertentu.

Berkaitan dengan beberapa jenis/model yang dapat dipergunakan untuk suatu program, Finsterbusch dan Morts dalam Wibawa (1994) menyebutkan empat jenis evaluasi berdasarkan kekuatan kesimpulan yang diperolehnya, yaitu :

  • Evaluasi single program after – only
  • Evaluasi single program before – after
  • Evaluasi comparatif after – only
  • Evaluasi comparatif before – after


Rossi dkk, (1989) mengemukakan bahwa penelitian evaluasi merupakan salah satu dari banyak pertimbangan yang menjadi masukan perencanaan dan rancangan program. Sementara itu Aji dan Sirait (1984) mengemukakan, evaluasi adalah salah satu usaha untuk mengukur dan memberi nilai secara obyektif pencapaian hasil-hasil yang telah direncanakan sebelumnya. Evaluasi sebagai salah satu fungsi manajemen berurusan dan berusaha untuk mempertanyakan efektivitas dan efisiensi pelaksanaan suatu rencana sekaligus mengukur seobyektif mungkin hasil-hasil pelaksanaan itu dengan ukuran-ukuran yang dapat diterima pihak-pihak yang mendukung maupun yang tidak mendukung suatu rencana.

Dengan melihat kompetensi dari penelitian jenis ketersediaan data, model evaluasi yang akan dijadikan sebagai landasan teori dalam penelitian ini yang merupakan upaya untuk mengumpulkan informasi tentang tingkat efektivitas pelaksanaan kegiatan dari program P2D dengan pola Kerja Sama Operasional (KSO) adalah evaluasi single program after-only dengan mengamati keadaan sesudah pelaksanaan program dengan pendekatan Summative Evaluation.



Daftar Pustaka:
Aji, F.B., dan Sirait, S.M. 1984. Perencanaan dan Evaluasi – Suatu Sistem Untuk Proyek Pembangunan. Cetakan Kedua, PT. Bina Aksara, Jakarta.
Bryant, C. dan White, L.G. 1989. Manajemen Pembangunan Untuk negara Berkembang. LP3ES, Jakarta.
Dunn, W.N. 2003. Pengantar Analisis Kebijakan Publik. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Rossi, H.P dan Freman, E.H. 1989. Evaluation, A Systematic Approach. Fourth Edition, The International Professional Publishers, Newbury Park, California.
Subhan (2005), Efektivitas Pelaksanaan Kegiatan Program Pengembangan Prasarana Perdesaan (P2D) Dengan Pola Kerjasama Operasional (KSO) Kasus Kabupaten Tabalong Kalimantan Selatan, Tesis-S2 UGM Tahun 2004
Tayibnapis, F.Y. 2000. Evalusi Program. PT. Rineka Cipta, Jakarta.
Wibawa, S. 1994. Evaluasi Kebijakan Publik. Rajawali, Jakarta.
Post a Comment