Faktor Utama Pengembangan Wilayah

Perencanaan dan Pembangunan suatu wilayah biasanya berkaitan dengan pertumbuhan perekonomian di wilayah tersebut, ini menurut teori resource endowment (Perloff dan Wingo, 1961) menyatakan bahwa:
Pengembangan ekonomi wilayah bergantung pada sumber daya alam yang dimiliki dan permintaan terhadap komoditas yang dihasilkan dari sumberdaya itu, yang dalam jangka pendek merupakan aset untuk memproduksi barang dan jasa.



Menurut North (1955), pertumbuhan wilayah dalam jangka panjang bergantung pada kegiatan industri ekspornya.
Akhirnya menurut Myrdal (1957), terdapat dua kekuatan yang bekerja pada pertumbuhan ekonomi, backwash effect dan spread effect.

  • Kekuatan efek penyebaran mencakup penyebaran pasar hasil produksi bagi wilayah yang belum berkembang.
  • Kekuatan efek balik negatif biasanya melampaui efek penyebaran dengan ketidakseimbangan aliran modal dan tenaga kerja dari daerah tidak berkembang ke daerah berkembang.
Berdasarkan teori pengembangan, ada dua konsep tentang teori tersebut, yaitu pembangunan dari atas (Development from above) dan pembangunan dari bawah (Development from bellow). 
A. Development from above:
Pendekatan berdasarkan strategi konsep pengembangan wilayah dari atas paling banyak digunakan baik secara ekonomis maupun praktek. Tujuan dari strategi ini adalah pembangunan pada sektor-sektor utama (terpilih) pada lokasi tertentu sehingga akan menyebarkan kemajuan keseluruh bagian wilayah.

Secara umum terdapat 5 (lima) pemikiran yang paling banyak memberikan pengaruh pada teori-teori  pengembangan/pembangunan dari atas (Hansen dalam Ma’arif 2000: 4), yaitu :

  1. Polarization and Trickling Down Effect, yang dikemukakan oleh Hirschman. 
  2. Backwash effect dan spread effect (Gunnar Mydral, 1957) 
  3. Konsep kutub pertumbuhan (growth pole ; Perroux, 1955) 
  4. Konsep pusat pertumbuhan (growth centre : Boudeville) 
  5. Konsep integrasi ruang ekonomi (centre – periphery : J. Friedman, 1966)


B. Development from bellow
Konsep pengembangan wilayah dari bawah adalah suatu proses pembangunan yang menyeluruh dari berbagai kesempatan yang ada untuk individu, kelompok sosial dan kelompok masyarakat secara teritorial pada skala menengah dan kecil, memobilisasi sepenuhnya kemampuan dan sumber daya yang ada untuk memperoleh keuntungan bersama dalam ekonomi, sosial dan politik.
Konsep pengembangan dari bawah merupakan kebalikan dari konsep pengembangan wilayah dari atas. Ada beberapa pendapat mengenai upaya pendekatan model pengembangan wilayah dari bawah (Ma’arif 2000: 13-15), yaitu:

  1. Efektif spasial closure (Stohr dan Todling, 1978)
  2. Territoriality (Friedman dan Weaver, 1979)
  3. Teori pengembangan agropolitan


Konsep-konsep pengembangan ini dapat diadopsi untuk perencanaan pusat pelayanan, dengan pendekatan node berupa kota-kota yang berinteraksi dengan skala pelayanan berupa transportasi dengan fungsi-fungsi yang telah diidentifikasikan sebelumnya sesuai dengan potensi wilayah tersebut.

Timbulnya konsep pusat pelayanan dan daerah belakang karena beberapa asumsi dan kebutuhan. Ada beberapa asumsi konsep-konsep pusat pelayanan (Budiharsono, 2001: 13), yaitu:

  1. Penduduk didistribusikan pada beragam ukuran permukiman
  2. Mereka mempunyai kebutuhan biofisik sama baiknya dengan kebutuhan sosial ekonomi
  3. Mereka menggunakan sumber daya alam dan manusia seperti barang-barang dan jasa untuk kebutuhan mereka
  4. Mereka membentuk pemukiman dalam bentuk rumah, desa dan kota serta memutuskan untuk tinggal bersama selama masih tersedia sumber daya yang dibutuhkan
  5. Mereka menggunakan sumber daya untuk kebutuhan dasar yang dibatasi atau keinginan terbatas
  6. Mereka berpindah ke tempat lain untuk mencari kebutuhan yang tidak terdapat di tempat mereka.

Pusat dan wilayah belakang merupakan suatu wilayah nodal yang mempunyai hubungan yang bersifat simbiotik dan mempunyai fungsi yang spesifik sehingga keduanya tergantung secara internal. Fungsinya berupa, pusat permukiman, pelayanan, industri, perdagangan, sedangkan untuk wilayah belakang berfungsi sebagai; penyedia barang dasar, daerah pemasaran dan pusat pertanian. Dan wilayah tersebut mempunyai hierarki, berdasarkan jumlah penduduk, jumlah fasilitas dan jumlah fasilitas pelayanan. 
Daftar Pustaka
Budiharsono, Sugeng. 2001. Teknik Analisis Pembangunan Wilayah Pesisir dan Lautan. Jakarta : Pradnya Paramita.
Ma’arif, Samsul. 2000. Pengertian Dasar dan Esensi Pengembangan Wilayah. Semarang : Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Myrdal, Gunnar. 1957. Economic Theory In Underdeveloped Regions. Duckworth, London.
Perloff, HS, ES Dunn, EE Lampard and RF Muth. 1960. Region, Resources and Economics Growth,. Baltimore: Resources of The Future Inc. John Hopkins Press.
Iqbal, (2003). Peranan Penetapan Jantho Sebagai Ibukota Kabupaten Aceh Besar Terhadap Perkembangan Wilayah Kabupaten Aceh Besar. Skripsi S1, Program Studi Magister Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Kota Universitas Diponegoro Tahun 2003
Post a Comment