Teori Pertumbuhan Wilayah (Perroux)

Pertumbuhan terjadi pada suatu wilayah, yang menurut para ahli dianggap wilayah adalah suatu organisme yang hidup dan secara alami akan berkembang. 
Menurut Alkadri et. Al (1999: 11) pertumbuhan wilayah merupakan suatu proses dinamika perkembangan internal dan eksternal wilayah tersebut, pertumbuhan wilayah pada awalnya dipicu oleh adanya pasar yang dapat menyerap hasil produksi wilayah yang bersangkutan. Perkembangan wilayah ini dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal (Glasson, 1990:102-109).



Teori yang mengungkapkan tentang faktor internal yang mempengaruhi pertumbuhan wilayah adalah teori sektor dan teori tahap yang merupakan perluasan dari teori sektor. Teori sektor diungkapkan proses pertumbuhan wilayah berdasarkan asumsi kenaikan pendapatan perkapita akan diikuti oleh relokasi sumber daya. Teori tahap memberikan gambaran umum mengenai tahap-tahap perkembangan wilayah dan menunjukkan syarat-syarat untuk berpindah dari suatu tahap ke tahap lainnya. Faktor-faktor internal ini meliputi distribusi faktor-faktor produksi seperti tanah, tenaga kerja, dan modal.
Cara faktor-faktor internal mempengaruhi pertumbuhan wilayah dapat diuraikan sebagai berikut (Perroux dalam Glasson, 1990:88):

  1. Tahap pertama, tahap perekonomian subsistem swasembada. Pada tahap ini masih sedikit investasi di wilayah tersebut dan didominasi oleh sektor pertanian.
  2. Tahap kedua, terjadi setelah adanya kemajuan transportasi dan perdagangan yang mendorong spesialisasi wilayah yang memunculkan industri sederhana di desa-desa untuk memenuhi kebutuhan para petani. Lokasi industri desa ini dekat dengan lokasi pertanian setempat.
  3. Tahap ketiga, dengan semakin bertambahnya perdagangan antar wilayah, wilayah yang bersangkutan akan maju melalui suatu urutan perubahan tanaman pertanian.
  4. Tahap keempat, penduduk semakin bertambah dan berkurangnya tambahan hasil pertanian akan memaksa wilayah yang bersangkutan melakukan industrialisasi (tanpa industrialisasi akan mengakibatkan tekanan penduduk, menurunnya taraf hidup, stagnasi, dan kemerosotan kehidupan masyarakat). Industri sekunder mulai berkembang, mengolah produk primer dan akan mengarah ke spesialisasi.
  5. Tahap kelima atau terakhir, merupakan pengembangan industri tersier yang berorientasi ekspor. Wilayah ini akan menyalurkan/mengekspor model, ketrampilan, dan jasa-jasa yang bersifat khusus ke wilayah yang kurang berkembang.
Pengaruh eksternal dalam pertumbuhan wilayah didekati melalui teori basis ekspor (export base theory). Teori ini menyatakan bahwa pertumbuhan suatu wilayah dipengaruhi oleh eksplotasi sumber daya alam dan pertumbuhan basis ekspor wilayah yang bersangkutan serta dipengaruhi oleh tingkat permintaan eksternal dari wilayah lainnya.

Pendapatan yang diperoleh dari ekspor akan mengakibatkan berkembangnya kegiatan-kegiatan penduduk setempat, perpindahan modal dan tenaga kerja. Pengaruh-pengaruh eksternal dapat mempengaruhi pertumbuhan wilayah secara optimal jika faktor/variabel utama yaitu pola pendapatan dan pengeluaran sektor ekspor, inisiatif bisnis lokal, dan peranan pemerintah diusahakan secara maksimal (Richardson, 2001:44). Teori lain yang menjelaskan pengaruh ekstenal adalah model alokasi sumber daya antar wilayah, model ini mengasumsikan bahwa faktor-faktor produksi terutama tenaga kerja dan modal akan mengalir dari wilayah dengan tingkat upah rendah ke wilayah-wilayah dengan tingkat upah tinggi.

Selanjutnya melihat pertumbuhan wilayah dengan memperhatikan pertumbuhan ekonominya, karena kemajuan ekonomi merupakan komponen utama bagi pengembangan wilayah (Alkadri et al., 1999: 17), sedangkan pendekatan spatial merupakan kajian penunjuk dari kegiatan ekonomi yang merupakan jawaban dari pertanyaan aktivitas di dalam wilayah berlangsung, ke arah mana aktivitas itu berkembang, dan sebaiknya aktivitas tersebut optimal dikembangkan.
Daftar Pustaka

  • Alkadri (ed). 1999. Manajemen Teknologi untuk Pengembangan Wilayah. Jakarta: Edisi Pertama, Direktorat Kebijaksanaan Teknologi untuk Pengembangan Wilayah-BPPT.
  • Glasson, John. 1983. An Introduction Regional Planning. London: Second Edition, Hutchinson and Co. (Plublisher) Ltd.
  • Glasson, John. 1990. Pengantar Perencanaan Regional. Terjemahan Paul Sihotang. Jakarta : Lembaga Penerbit UI.
  • Iqbal, (2003). Peranan Penetapan Jantho Sebagai Ibukota Kabupaten Aceh Besar Terhadap Perkembangan Wilayah Kabupaten Aceh Besar. Skripsi S1, Program Studi Magister Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Kota Universitas Diponegoro Tahun 2003

Post a Comment