Faktor-faktor Penentuan Lokasi Industri

Banyak faktor yang mempengaruhi penentuan lokasi industri di suatu tempat, dimana faktor-faktor tersebut dapat berupa faktor langsung dan faktor tak langsung. Keberadaan industri di suatu tempat tergantung pada faktor lingkungan yang akan menentukan kelangsungan industri itu.

Dalam Pelita IV-V pembangunan industri di Indonesia ditujukan untuk memperluas kesempatan kerja, meratakan kesempatan berusaha dan meningkatkan ekspor (Jayadinata, 1992:111). Untuk mengembangkan sektor industri tersebut dituntut adanya kesiapan dari daerah-daerah yang bersangkutan yang didukung oleh beberapa faktor.



Keputusan untuk mendirikan suatu perusahaan tergerak karena adanya permintaan akan suatu barang. Permintaan yang cukup besar dan didukung oleh daya beli yang memadai cepat atau lambat akan menarik perhatian seorang pengusaha. Adanya permintaan ini menimbulkan ini suatu pasar dan luas pasar tersebut akan menentukan skala produksi yang dianut oleh perusahaan yang bersangkutan. Skala produksi merupakan satu dari dua unsur yang menentukan lokasi perusahaan (Djojodipuro, 1992:10). Weber masuk ke dalam masalah industri yang mempergunakan dua bahan mentah yang berlokasi di dua tempat yang berbeda dan menjualnya di pasar yang berlokasi di tempat lain dengan mempergunakan pengertian Dominant Weight. Dalam suatu proses produksi dikatakan terhadap Dominant Weight, bila salah satu dari ketiga unsur lainnya. Jadi, umpamanya saja dalam proses produksi membuat besi baja satu ton dipergunakan batu bara sebanyak 10 ton dan biji besi dua ton. Dalam hal ini yang merupakan Dominant Weight adalah batu bara, karena berat bahan ini adalah lebih besar daripada berat bahan lainnya ditambah hasil akhir. Dalam keadaan ini, maka lokasi industri besi baja akan berorientasi ke tempat diketemukannya batu bara. Disini asumsi secara implisit bahwa harga satuan angkutan ke mana-mana sama, sehingga perbedaan biaya angkutan hanya disebabkan oleh berat benda yang diangkut dan jarak yang ditempuh. Penggunaan prinsip Dominant Weight ini akan mengalami kesulitan, bila berat benda yang masuk dalam perhitungan tidak jauh berbeda. Kalau berat masing-masing bahan mentah yang dipergunakan adalah dua dan dua setengah, sedangkan hasil akhir adalah tiga ton, maka dalam proses produksi ini tidak terdapat Dominant Weight. Dalam kasus demikian ini, Weber mempergunakan segitiga lokasi (Djojodipuro, 1992:76-77).

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pada umumnya adalah sebagai berikut  (Marsudi Djojodipuro, 1992:30) :
1. Faktor endowment
Faktor endowment memang sulit untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh karena itu dipergunakan istilah. Yang dimaksud dengan faktor endowment adalah tersedianya faktor produksi secara kualitatif dan kuantitatif pada suatu negara atau daerah. Faktor endowment ini meliputi tanah, tenaga dan modal. Semakin banyak faktor endowment yang dimiliki oleh suatu negara atau daerah, semakin banyak pula yang harus diperhatikan dalam menentukan lokasi suatu industri.

2. Pasar dan harga
Tujuan akhir seorang pengusaha adalah membuat keuntungan. Oleh karena itu, maka ia harus mampu menjual barang yang dihasilkannya dengan harga yang lebih tinggi daripada yang dikeluarkan. Dalam hubungannya dengan masalah ini, maka pasar menjadi relevan. Luas pasar ditentukan tiga unsur, yaitu:

  • Jumlah penduduk 
  • Pendapatan perkapita
  • Distribusi pendapatan.


3. Bahan baku dan energi
Proses produksi merupakan usaha untuk mentransformasikan bahan baku ke dalam hasil akhir yang mempunyai nilai lebih tinggi. Proses transformasi ini terjadi dengan mempergunakan energi dalam berbagai bentuk. Bahan baku yang dipergunakan dapat merupakan bahan mentah atau barang setengah jadi.

4. Aglomerasi, keterkaitan antar jenis industri dan penghematan ekstern.
Kota besar biasanya menarik sebagai lokasi industri oleh karena itu, di kota mudah terjadi aglomerasi. Terkumpulnya berbagai jenis industri mengakibatkan timbulnya external economies yang dalam hal ini merupakan penghematan aglomerasi. Penghematan ini terjadi karena faktor-faktor luar dan dinikmati oleh semua industri yang ada di kota tersebut.

Dua hal penghematan aglomerasi; pertama adalah penghematan yang diperoleh industri sejenis atau industri yang mempunyai hubungan satu sama lain dan yang kedua adalah penghematan yang diperoleh perusahaan individual yang berlokasi di daerah perkotaan. Penghematan ini terutama didapat karena adanya infrastruktur di daerah perkotaan yang berkembang pesat.

5. Kebijaksanaan Pemerintah
Pemerintah dapat menentukan lokasi industri. Kebijaksanaan ini merupakan dorongan atau hambatan dan bahkan larangan untuk industri berlokasi di tempat tertentu. Dewasa ini, dorongan oleh kebijaksanaan lingkungan, perencanaan kota yang didasarkan atas pembagian daerah – lazim disebut zoning merupakan kebijaksanaan yang makin biasa. Seperti yang telah disebut di atas, maka kebijaksanaan dapat mengarah ke pengaturan lingkungan, tetapi juga atas pertimbangan pertahanan atau ekonomi. Selain industri mengakibatkan pencemaran udara, industri juga selalu merupakan sasaran dalam perang, oleh karena itu lokasinya perlu dipisahkan dari daerah permukiman.

Dewasa ini makin penting arti pembangunan daerah. Daerah yang kurang maju perlu didorong pertumbuhan ekonominya dan yang terlampau maju relatif terhadap daerah lain perlu dihambat. Dengan demikian akan diperoleh keseimbangan antar daerah dalam pembangunan ekonomi suatu negara. Sarana untuk mencapai tujuan itu antara lain dengan mendorong atau melarang industri di tempat tertentu. Kebijaksanaan ini biasanya disebut kebijaksanaan langsung. Cara lain yang bersifat tidak langsung adalah melalui keringanan atau penundaan pajak (tax holiday) dan pemberian fasilitas kredit.

Sejak tahun 1970-an terdapat penentuan lokasi industri yang dikenal dengan istilah kawasan industri (industrial estate). Kawasan ini merupakan sebidang tanah seluas beberapa ratus hektar yang telah dibagi dalam kavling dengan luas yang berbeda sesuai dengan keinginan yang diharapkan oleh pengusaha. Daerah tersebut minimum dilengkapi dengan jalan antar kavling, saluran pembuangan limbah dan gardu listrik yang cukup besar untuk menampung kebutuhan pengusaha yang diharapkan berlokasi di tempat tersebut. Ini disebut upaya penghematan ekstern yang diharapkan meningkat. Bila makin banyak industri yang berlokasi di tempat tersebut, maka penghematan ekstern akan meningkat atau terjadinya proses aglomerasi.

6. Kebijaksanaan Pengusaha. 
Kebijaksanaan ini dilatarbelakangi oleh ketersediaan sarana dan prasarana yang dapat mendukung produktivitas dari industri yang bersangkutan. Dalam industri biasanya pusat perusahaan menentukan lokasi cabang-cabangnya. Lokasi cabang ini ditentukan sesuai dengan fungsinya sebagai unit produksi, unit distribusi atau unit penjualan. Bila cabang berfungsi sebagai unit produksi, maka masalah bahan baku maupun pasar akan masuk dalam pertimbangan, sebaliknya bila cabang berfungsi sebagai unit distribusi, maka lokasi di persimpangan jalan, karena memungkinkan memakai sarana angkutan ke berbagai arah.

Sedangkan faktor-faktor yang harus dipertimbangkan didalam penentuan lokasi industri menurut Sritomo Wignjosoebroto adalah sebagai berikut:
1. Lokasi pasar (market Location)
Pasar atau market yaitu lokasi dimana pembeli berdomisili adalah salah satu faktor yang harus diperhatikan didalam penentuan lokasi industri. Tergantung dari macam produk yang dihasilkan, pasar ini bisa secara luas tersebar atau terpusatkan.

2. Lokasi sumber bahan baku (raw material location)
Lokasi dari sumber bahan baku untuk produksi sangat pula berpengaruh di dalam menentukan lokasi pabrik yang akan didirikan. Beberapa industri karena sifat dan keadaan dari proses menufakturing memaksa untuk menempatkan industrinya yang berdekatan dengan sumber bahan bakunya. Sebagai contoh industri baja secara tradisional akan meletakkan industrinya dekat dengan sumber batu bara, karena industri ini akan banyak sekali memanfaatkan energi batu bara sebagai bahan baku yang umum untuk proses pembakaran. Pada dasarnya disini ada tiga kelas bahan baku yang umum dijumpai dalam suatu proses industri yaitu sebagai berikut:

  • Pure materials. Material yang termasuk sebagai bahan baku di dalam proses manufakturing yang secara nyata tidak akan kehilangan prosentase berat/volumenya pada akhir proses berlangsung.
  • Weight lossing materials. Material yang sebagaian dari berat/volumenya akan tetap tinggal pada saat akhir produksi berlangsung.
  • Ubiquities. Material yang dapat dengan mudah diketemukan pada setiap tempat.


Berdasarkan ketiga macam bentuk material tersebut diatas, maka lokasi pabrik dapat ditentukan, yaitu dengan aturan umum sebagai berikut:

  • Bilamana suatu single raw materials dipergunakan tanpa banyak kehilangan berat/volumenya dalam akhir proses produksinya, maka sebaiknya pabrik ditempatkan sedekat mungkin dengan sumber bahan baku diperoleh, atau bisa sedekat mungkin dengan lokasi pasar dimana produk akan didistribusikan atau pula diantaranya.
  • Bilamana bahan baku akan kehilangan berat/volume secara nyata pada akhir proses produksi, maka lokasi pabrik dapat dan seharusnya diletakkan sedekat mungkin dengan lokasi sumber bahan baku diperoleh.
  • Bilamana suatu jenis bahan baku secara mudah diperoleh di setiap tempat, maka lokasi pabrik dapat ditempatkan sedekat mungkin dengan area pemasaran. 


3. Alat Angkutan (transportation)
Masalah tersedia tidaknya fasilitas-fasilitas adalah juga sangat menentukan didalam proses  pemilihan media transportasi yang tepat, maka beberapa pertimbangan harus dilakukan seperti:

  • Macam/jenis fasilitas transportasi yang ada pada daerah asal dan tujuan (kereta api, kapal laut, truk, dan lain-lain)
  • Relatif biaya masing-masing media transportasi tersebut
  • Derajat kepentingan dari pengiriman barang tersebut
  • Kondisi-kondisi khusus yang diharapkan proses pengiriman barang yang ada (pendinginan, keamanan, dan lain-lain)


4. Sumber energi (power)
Hampir dapat dipastikan bahwa semua industri memerlukan tenaga listrik untuk berbagai macam kebutuhan dalam proses produksinya. Secara umum sebagaian perusahaan akan lebih senang untuk membeli energi ini (dari perusahaan listrik)  daripada harus membuat instalasi listrik sendiri. Biasanya publik utility akan pula dapat mensuplai energi pada tingkat biaya yang lebih murah/rendah dibandingkan bila harus menyediakannya sendiri.

5. Iklim (climate)
Iklim atau cuaca secara nyata akan banyak mempengaruhi efektivitas, efisiensi, dan tingkah laku pekerja di dalam melaksanakan aktivitasnya sehari-hari. Berdasarkan hasil penelitian, manusia akan dapat bekerja dnegan nyaman didalam ruangan yang temperaturnya dapat dijaga sekitar 20 derajat celcius.

6. Undang-undang dan sistem perpajakan
Aturan ataupun undang-undang yang dikeluarkan oleh suatu pemerintah baik tingkat pusat maupun tingkat daerah akan pula memperngaruhi proses pemilihan lokasi industri. Beberapa aspek dari operasi suatu industri yang umum diatur oleh undang – undang adalah berupa jam kerja maksimal, usia kerja minimal, dan kondisi-kondisi kerja lainnya. Disamping itu besar kecilnya pajak yang harus disetorkan oleh suatu industri akan pula berbeda-beda tergantung dimana lokasi industri tersebut akan didirikan.

7. Air dan limbah industri
Pada dasarnya industri tertentu, masalah tersedianya air dalam jumlah besar mutlak sekali diperlukan untuk proses produksinya, memilih lokasi industridengan suplai air cukup sangat penting sekali bagi industri baja, industri kertas dan lain-lain. Air untuk kebutuhan industri ini secara umum tersedia dari tiga macam sumber utama, yaitu:

  • Surface water, yaitu air yang berasal dari sumber-sumber air seperti sungai, danau dan lain-lain.
  • Ground water, yaitu air yang berasal dari sumber air di bawah tanah (wells).
  • Air yang berasal dari penampungan hujan (raian water)

Selanjutnya proses pembuangan limbah industri belakangan ini banyak pula mendapatkan sorotan tajam dari berbagai pihak masyarakat, sehingga masalah pengendalian limbah industri sekarang ini juga merupakan satu paket yang secara bersama-sama harus dipikirkan pada saat perencanaan pendirian dan penentuan lokasi suatu industri (Wignyosoebroto, 16-19).

8. Ketersediaan Bahan Mentah
Bila suatu industri membutuhkan bahan mentah yang besar dan karenanya bahan mentah merupakan komponen yang amat penting dari keseluruhan proses operasi industri, maka variabel ini merupakan variabel dominan/signifikan dalam penentuan lokasi industri. Beberapa jenis industri ini antara lain, industri baja, semen, alimunium, gula, dan rotan.
Sehubungan dengan bahan mentah ini, beberapa yang perlu untuk didapat informasinya adalah:

  • Jumlah kebutuhan bahan mentah satu periode (tahun) dan selama usia investasi.
  • Kelayakan harga bahan mentah, baik sekarang  maupun masa datang.
  • Kapasitas, kualitas dan kontinuitas sumber bahan mentah.
  • Biaya-biaya pendahuluan yang dieprlukan sebelum bahan mentah siap diproses, misalnya biaya pengakutan dan lain-lain.


9. Tenaga Listrik dan Air
Untuk jenis industri hulu, misalnya industri baja, alumunium, demikian pula semen, keperluan akan pembangkit tenaga, khususnya tenaga listrik amat mutlak diperlukan. Juga misalnya untuk industri kertas, jumlah air yang besar amat diperlukan.

10. Supply Tenaga Kerja
Tersedianya tenaga kerja, baik untuk tenaga kerja terdidik maupun terlatih akan berpengaruh terhadap biaya produksi yang ditanggung perusahaan. Dapat dijumpai misalnya pendirian iondustri rokok, industri pengolahan tembakau, disamping pertimbangan bahwa bahan mentah pertimbangan jumlah, kualitas dan biaya tenaga kerja merupakan perhatian pertama.

11. Fasilitas Transportasi
Fasilitas transportasi ini berkaitan dengan pertimbangan bahan mentah dan pertimbangan pasar. Jika lokasi mendekati bahan mentah, maka fasilitas transportasi terutama perhitungan dalam kaitannya ongkos transportasi menuju pasar dengan tidak berarti tidak diperhitungkan biaya transportasi dari sumber bahan mentah ke lokasi industri, demikian pula sebaliknya.

12. Hukum dan peraturan yang berlaku di Indonesia, maupun di tingkat lokal pada rencana lokasi.
Hal ini dipertimbangkan karena mungkin terdapat peraturan yang melarang pendirian usaha baru pada lokasi tertentu atau justru mungkin akan mendapatkan fasilitas dan keringanan lain. Di Indonesia misalnya, tersedia kawasan industri cilacap, walaupun karena faktor lain yang kurang menguntungkan sedikit investor yang menanamkan modalnya pada lokasi tersebut.
Daftar Pustaka:

  • Djojodipuro, Marsudi. 1992. Teori Lokasi. Jakarta : Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
  • Hoover, Edgar M., 1977. Pengantar Ekonomi Regional. Jakarta : Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
  • Jayadinata, Johara T. 1999. Tata Guna Tanah Dalam Perencanaan Pedesaan, Perkotaan dan Wilayah. Bandung : Institut Teknologi Bandung.

Post a Comment