Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pemukiman

Warpani mengemukakan bahwa pemukiman selain berarti memukimkan penduduk dari satu daerah ke daerah lain, hal ini mungkin terjadi apabila pemukiman yang baru menjanjikan tempat kehidupan dan penghidupan yang layak(Warpani dalam Jurnal PWK, 1992:9).



Konsep Rumah
Pemukiman terdapat dua unsur pembentuknya yaitu bangunan rumah dan penduduk penghuninya. Heyward mengemukakan beberapa konsep tentang rumah sebagai berikut: (Warpani dalam Jurnal PWK, 1992:11)

  1. Rumah sebagai pengejawantahan jati diri. Rumah sebagai simbol dan pencerminan tata nilai selera pribadi penghuninya.
  2. Rumah sebagai wadah keakraban. Rumah sebagai wadah keakraban karena ada rasa memiliki, kebersamaan, kehangatan, kasih dan rasa aman.
  3. Rumah sebagai tempat menyendiri. Rumah sebagai tempat melepaskan diri dari dunia luar, dari tekanan dan ketegangan dari kegiatan rutin.
  4. Rumah sebagai kampung halaman.
  5. Rumah sebagai wadah kegiatan utama sehari-hari.
  6. Rumah sebagai pusat jaringan sosial.
  7. Rumah sebagai struktur fisik.
Menurut Pedro, rumah sebagai shelter yaitu tempat berlindung dari hujan, angin, panas matahari, gangguan binatang atau manusia. Dalam hal kebutuhan sosial rumah memberikan peluang untuk berinteraksi dan beraktivitas dengan lingkungan sekitarnya. Dengan demikian keberadaan lingkungan perumahan tidak hanya berpengaruh pada keseimbangan ekologi tetapi juga terhadap lingkungan sosialnya.(Budiharjo, 1991:34)

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pemukiman 
Pemilihan Lokasi Tempat Tinggal (Budiharjo, 1991)

Penghuni pemukiman dalam melakukan berbagai kegiatan dipengaruhi oleh kondisi sosial, ekonomi dan budayanya. Sehingga dari kedua unsur tersebut yang akan mempengaruhi menjadi faktor-faktor yang menjadi landasan perkembangan pemukiman (Sumaatmadja, 1993:23) antara lain:
1. Faktor fisik alamiah
Faktor fisik akan mempengaruhi perkembangan pemukiman karena keberadan rumah dan pemukiman tidak akan lepas dari kondisi lahan yang ditempatinya, meliputi keadaan tanah, keadaan hidrografi, iklim, morfologi, sumber daya alam. Faktor-faktor ini membentuk pola perluasan pemukiman dan bentuk pemukimannya.

2. Faktor sosial
Karakter dan kondisi sosial penduduk dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya. Penduduk perkampungan memiliki rasa kebersamaan cukup tinggi.

3. Faktor budaya
Pola hidup yang menjadi kebiasaan di kampung-kampung yang masih terbawa dalam lingkungan kehidupan kota diantaranya dalam menjaga kesehatan lingkungan dan kebersihan.

4. Faktor ekonomi
Kemampuan penduduk untuk memiliki tempat tinggal dipengaruhi oleh harga lahan, kemampuan daya beli, lapangan penghidupan dan transportasi.

5. Faktor politis
Kondisi politik suatu negara mempengaruhi pertumbuhan pemukiman karena keadaan pemerintahan dan kenegaraan yang stabil dilengkapi dengan peraturan serta kebijaksanaan pemerintahnya akan menciptakan suasana yang aman dan situasi menguntungkan untuk membangun.

Ciri-ciri Perumahan
Selanjutnya menurut Poespawardojo (1998) beberapa ciri hakiki yang secara instrisik menandai perumahan manusia. Ciri-ciri hakiki itu adalah sebagai berikut:
1. Rumah memberikan keamanan
Manusia adalah makluk rohani dan jasmani. Sebagai kebutuhan pribadi yang jasmani ia membutuhkan pengamanan bagi badannya. Tempat berteduh untuk menghindari teriknya panas matahari, dinginnya air hujan dan kepengapan udara polusi. Rumah harus menjaga kesehatan badan.

2. Rumah memberikan ketenangan hidup
Dunia dan jaman dewasa ini dipenuhi oleh keramaian dan hiruk pikuk yang memekakan telinga. Kesibukan dan keramaian itu dapat menimbulkan ketegangan patologis. Bahkan jaman teknologi yang begitu maju justru merupakan ancaman yang meresahkan, karena manusia di situ merasa dirampas dari ketenangan dan kepribadiannya. Rumah seharusnya menunjukan manfaatnya untuk tempat memperoleh ketenangan jasmani dan rohani. Rumah adalah tempat rekoleksi kekuatan.

3. Rumah memberikan kemesraan dan kehangatan hidup.
Manusia bukanlah angka atau robot yang deterministis, melainkan seorang pribadi yang menginginkan dialog serta pergaulan yang manusiawi. Bagaimanapun juga manusia adalah makluk yang menuju kemandiriannya dan ingin menemukan dirinya. Disini rumah mampu memberikan wahana yang ideal dan suasana yang mampu mendorong penemuan dirinya (Selbst) itu.

4. Rumah memberikan kebebasan 
Kegiatan-kegiatan budaya itu sendiri merupakan proses pembebasan manusia. Karya manusia pada hakekatnya adalah langkah-langkah menuju penemuan diri yang otentik (memerangi kemunafikan). Rumah memberikan kondisi kepada pencapaian kebebasan psikologis dan sosial.

Poespawardojo (1998) memberi kesimpulan bahwa rumah dan perumahan merupakan kebutuhan dasar yang struktural sifatnya. Perbaikan hidup masyarakat harus diikuti dan disertai secara seimbang (bukan sebagai penunjang semata-mata) dengan perbaikan rumah. Perbaikan bukan saja dalam pengertian kuantitatif tetapi juga dalam pengertian kualitatif dengan memungkinkan terselenggaranya perumahan sesuai hakekat dan fungsinya.
Sumber:
Thobias (2003), Kebijakan Pemukiman Kembali Pengungsi Di Perbatasan Indonesia-Timor Leste (Studi Kasus: Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur), Tesis-S2 Universitas Deponegoro Tahun 2003.
Post a Comment