Kajian Pemukiman kembali di Malaysia

Perencanaan pemukiman kembali di Malaysia dalam kerangka pengorganisasian dari Federal and Development Authority (FELDA) sangat menentukan dalam memberi gambaran keseluruhan tentang kelompok-kelompok petani. Perencanaan ini berlokasi relatif jauh dari keberadaan pinggiran desa (rural villages) and merupakan pemukiman kota yang baru (new urban settlements) dalam hubungan dengan pembaharuan besar stabilisasi pertanian (plantations).



Tingkat pembangunan dari program pemukiman kembali yang mengesankan dan program FELDA dianggap sebagai sebuah contoh yang sangat sukses dari rencana pemukiman kembali pada negara-negara berkembang dalam menggunakan pendekatan pola ekonomi dan kestabilan politik. Pemerintah Malaysia melalui organisasi untuk orang miskin dan yang tidak memiliki tanah (organizing poor and landless people) dalam menjual produksi pertanian sudah melalui banyak penelitian sebagai sebuah model yang ideal untuk desa miskin (rural poverty).  Perencanaan pemukiman kembali di Malaysia dalam kerangka pengorganisasian dari Federal and Development Authority  (FELDA) sangat menentukan dalam memberi gambaran keseluruhan tentang kelompok-kelompok petani. Perencanaan ini berlokasi relatif jauh dari keberadaan pinggiran desa (rural villages) and merupakan pemukiman kota yang  baru (new urban settlements)

Organisasi FELDA sudah merubah sejumlah waktu sejak dimulainya program ini. Banyak muncul perubahan yang sejak diperkenalkan pada tahun 1980 hingga saat ini tahun 1990; perubahan ini diangap sebagai satu perubahan yang dramatis dalam konsep dasar dari program pemukiman kembali. Sebelum perubahan ini diperkenalkan, permukim (settlers) diharapkan untuk mengolah lahan sesudah membayar kembali bagian dari harga pembukaan. Dibawah sistim baru ini, lahan masih dikuasai oleh FELDA direncanakan sementara penarik para pekebun (estates) yang dikerjakan oleh buruh yang mendapat bayaran gaji dan bonus untuk memproduksi dan harga pasar dunia. Lebih dari itu harga pembangunan masyarakat akan tidak akan sangat jauh tertutup oleh beberapa dari aktivitas perdagangan baru FELDA.
Hubungan Buruh dan perumahan (property) diorganisir dengan cara yang berbeda selama pembangunan dilaksanakan oleh FELDA. Pada awalnya permukim diberikan sebidang lahan, masing-masing keluarga pemukim dialokasi sekitar 4 hektar lahan (cropland), sebuah rumah kecil dan sebidang kebun (garden). Pada awalnya merencanakan minyak sawit (oil palm), permukim dikerjakan pada sedikit tingkat sistem (apiece-rate system) dan dianggap sebagai pemilik dengan tidak dibenarkan untuk sebidang tanah istimewa. Pendapatan yang berbeda berpeluang hak untuk memilih orang yang menjadi kesayangannya (beberapa dari permukim membiayai pekerja-pekerja) berakibat pada ketidaksatuan dan rendahnya moral di antara permukim. Beberapa dari permukim disewa sebagai pekerja sewaan untuk kewajiban buruh mereka sementara pertambahan pendapatan mereka dari aktifitas lain didalam atau keluar dari rencana. (Lim Teck Ghee dan Dorall, 1992; Sutton, 1989). Diterjemahkan dari tulisan Oiling the Palms: Restructuring of Settlement Schemes in Malaysia and the New International Trade Regulations NIELS FOLD University of Copenhagen, Denmark,1998.
Post a Comment