Pemukiman kembali di China

Dam-dam besar adalah komponen yang penting dari pembangunan infrastruktur di negara-negara kapitalis dan komunis. Pada tahun 1998, perubahan perilaku dunia pada dam-dam besar hal yang sudah pasti selama dua tahun. Komisi dunia tentang dam dan standar-standar dunia baru menuntut supaya proyek-proyek akan datang membayar adil penggantian sehingga pemukiman kembali menjadi sukarela. Setelah 10 tahun memperkenalkan reformasi ekonomi, China memobilisasi sumber dayanya untuk pembangunan dam-dam dunia yang lebih besar. Ini ambisi yang sangat untuk membendung sungai Yangtze di pusat Cina pada Tiga buah ngarai kecil yang curam dan menggunakan hydropower, diperbaiki ilmu pelayaran dan kontrol aliran untuk pembangunan ekonomi.

Dampak sosial ekonomi dari pembangunan 3 buah dam pada ngarai kecil yang curam pada 1,3 juta orang yang dialokasikan sementara Cina pada transisi untuk ekonomi pasar. Kita mempertimbangkan pemukiman kembali dalam pola-pola dari struktur pembuat keputusan, perumahan yang tepat dan insentif dan bagaimana proyek membuat masalah-masalah lebih buruk diciptakan oleh reformasi pasar, teristimewa peningkatan pengangguran dan kesehatan masyarakat memburuk. Kami menyimpulkan proyek adalah menaikan harapan ekonomi sementara pengaruh kerugian yang besar terhadap penduduk, dan ini akan mempengaruhi secara luas kerusuhan sosial dan perubahan pada akhirnya dalam lembaga-lembaga politik.

Cina lebih dari 10 tahun masuk dalam liberalisme ekonomi (economic liberalization), sementara kembali pada Model Maoist dari pembuat keputusan pada tahun 1992 to menyetujui sebuah proyek pembangunan raksasa/The Three Gorges Dam (TGD). 

Insentive dan kompensasi merupakan masalah yang utama dalam pemukiman kembali. Penduduk yang terkena proyek TGD diberi kompensasi dengan wajar sehingga melakukan pemindahan pemukiman dengan sukarela dan ini menyebabkan perubahan kehidupan menjadi lebih baik seperti penjelasan dibawah ini :
Tingkat Pembayaran Kompensasi Untuk Pemukiman Kembali (Sleigh, 2000)

Biasanya pembayaran yang benar kepada pemukim kembali secara sukarela; Sifat sukarela dapat dicapai ketika kompensasi membuat orang-orang hidup lebih baik. Seperti diperlihatkan pada gambar dibawah ini, harga akan dinegosiasi pada pembayaran kompensasi P2, pada titik ini yang mana orang-orang yang terusir acuh tak acuh untuk tinggal atau meninggalkan lingkungan dan kehidupan mereka. Model yang disarankan supaya individu akan kepastian tinggal pada P1 , akan menjadi tidak tertarik untuk apakah bergerak atau tinggal pada P2 dan akan mempunyai insentif ekonomi untuk bergerak pada P3. Pembayaran pada P1 dibawah dari kompensasi(under-compensates). Untuk menyebabkan pemukiman kembali secara sukarela (voluntary resettlement), pembayaran kompensasi akan menjadi tawaran diatas pengabaian (indifference) pembayaran P2 tetapi dibawah P3 (that is, within the P3 2P2 zone of negotiation). Ini akan sesuai dengan aspirasi dari individu-individu untuk menjadi lebih baik. Bagaimanapun, titik-titik ini akan menjadi dasar dari nilai rata-rata untuk kelompok-kelompok dan kita akan mengharapkan pertimbangan variasi didalam titik dari pengabaian (indifference) untuk individu, tetap didalam rumahtangga yang sama. Beberapa tidak akan ingin untuk berpindah. Tentu, seperti kurang beruntung( “willing-ness) untuk bergerak pada analisis diatas mempermudah dengan keuangan (monetarizing) dasar dari segala pilihan dan mengabaikan kemungkinan dari dibumbungkannya tingkat P2 seperti bagian dari sebuah minat tersendiri (self-interested) strategi permainan (“game”) supaya mungkin dimainkan jika petani mengharapkan dibawah dari kompensasi (under-compensated). Kita juga sadar bahwa beberapa faktor dipertimbangkan oleh permukim tidak hanya nilai uang.

Dua faktor penting akan berjalan tak menyenangkan pada situasi sekitar. Pertama, Organisasi internasional dengan banyak pengetahuan, pengalaman dan and keahlian dalam pemukiman kembali, Bank Dunia menyiapkan latihan dampak perubahan sosialnya. Komisi-Komisi Dunia Dam yang baru (World Commission on Dams (WCD)) tentu akan mengumpulkan standar-standar yang tinggi ketika membuat laporan pada bulan Mei tahun 2000. Standar-standar ini boleh menuntut supaya proyek-proyek dam menjamin pengaruh dam terhadap orang-orang adalah lebih baik dan lebih banyak pemukiman kembali secara sukarela. Kedua, umpan balik dari lembaga-lembaga dari pengaruh Three Gorges penduduk adalah langsung, sehingga strategi geografi dan politik, itu akan memimpin untuk sebuah perubahan mendasar dari kebijakan pemukiman kembali di China.
(Diterjemahkan dari tulisan Resettlement for China’s Three Gorges Dam: socio- economic impact and institutional tensions Sukhan Jackson, Adrian Sleigh, Department of Economics, University of Queensland, St Lucia, Queensland, Australia Australian Center for International and Tropical Health and Nutrition, Medical School, University of Queensland, Herston, Queensland, Australia.)

Sumber:
Thobias (2003), Kebijakan Pemukiman Kembali Pengungsi Di Perbatasan Indonesia-Timor Leste (Studi Kasus: Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur), Tesis-S2 Universitas Deponegoro Tahun 2003.
Post a Comment