Karakteristik Pejalan Kaki

A. Kedudukan Aktivitas Jalan Kaki dalam Moda Transportasi
Menurut Fruin (Rochadi dkk, 1991: III-2) berjalan merupakan alat untuk pergerakan internal kota, satu satunya alat untuk memenuhi kebutuhan interaksi tatap muka yang ada di dalam aktivitas komersial dan budaya di lingkungan kehidupan kota.



Kedudukan berjalan adalah sebagai alat penghubung antara moda moda angkutan yang tidak mungkin dikerjakan oleh moda angkutan lain (Rochadi dkk, 1991:III-2). Selain itu berjalan merupakan salah satu sarana transportasi yang menghubungkan antara fungsi kawasan satu dengan yang lain terutama kawasan perdagangan, kawasan budaya dan kawasan permukiman.
Misalnya bepergian dengan berjalan dilakukan dari rumah menuju pemberhentian angkutan umum, kantor, kawasan perdagangan dan sebagainya. Berjalan dari perhentian angkutan umum atau tempat parkir menuju kantor, kawasan komersial, dan sebagainya. Contoh lain adalah berjalan dari satu kawasan komersial ke kawasan lain misalnya dari kantor menuju pusat perdagangan atau berjalan di dalam satu kawasan tertentu seperti di suatu pusat perdagangan.

Karakteristik Pejalan Kaki 
Perjalanan seseorang pada hakekatnya meliputi kegiatan berjalan kaki kecuali bayi dari mereka yang tidak dapat beralan secara fisik, adalah pejalan kaki. Oleh karena itu dalam merencanakan jalur pejalan yang efektif, harus diperhatikan karakteristik arus pergerakan pejalan kaki serta informasi tentang calon pemakai jalur tersebut. Untuk karakteristik pejalan, informasi yang dibutuhkan adalah karakteristik umum pejalan yang meliputi karakter fisik dan psikis manusia. serta karakter khusus yang menunjukkan sifat sifat khusus pejalan pada tiap aktivitas perkotaan, yang kemudian setiap karakter dari pejalan ini akan dikaitkan dengan kebutuhan ruangnya.
Menurut Fruin, tujuan utama pengembangan fasilitas jalur pejalan kaki adalah keamanan dan keselamatan, dan perbaikan gambaran fisik sistem untuk meningkatkan kenyamanan, keamanan, kesenangan, kesinambungan, kelengkapan, dan daya tarik (Fruin, 1979:190).
Faktor utama karakteristik fisik pejalan adalah dimensi tubuh manusia dan daya gerak. Kedua faktor ini mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap penggunaan ruang pribadi (personal space) dan juga penting untuk memahami kebutuhan-¬kebutuhan pejalan.

Pandangan perencana terhadap tubuh manusia kira kira seperti elips dengan tebal tubuh sebagai sisi pendeknya dan lebar bahu sebagai sisi yang panjang. Sejumlah studi tentang faktor manusia. menunjukkan bahwa dimensi tubuh yang lengkap berpakaian dari persentil ke 95 (95% mempunyai ukuran lebih kecil dari ini) adalah 33 cm untuk tebal tubuh dan 58 cm untuk lebar bahu. Dengan demikian, daerah perencanaan tubuh manusia laki laki rata rata adalah 0,14 m . Elips tubuh (46 x 61 cm) sama dengan daerah berdiri 0,21 m2 per orang, menu¬rut studi yang dibuat oleh New York City Transit Authority (NYTCA) (Fruin, 1979:191).

Karakteristik psikis berupa preferensi psikologi diperlukan untuk memahami keinginan keinginan pejalan ketika melakukan aktivitas berlalu lintas. Penelitian psikologis menunjukkan bahwa pejalan kaki lebih suka menghindari kontak fisik dengan pejalan kaki lainnya dan biasanya akan memilih ruang pribadi yang lebih luas. Keinginan untuk menghindari kontak fisik ini memperlihatkan perlunya jarak membujur bagi pejalan kaki paling sedikit adalah selebar 60 90 cm agar diperoleh gerakan manu¬sia yang "enak" (Fruin, 1979:192). 



Daftar Pustaka:
  • Fruin, John, J,1971. Dalam Rubenstein, Harvey,M.  1987.  A Guide To Site Planning And Landscape Contsruction. Fourth Edition, New York: John Wiley &Sons, Inc.
  • Fruin, John. J. 1979. Pedestrian Transportation. London: Prentice Hall Inc. Dalam Mahasiswa Pasca Sarjana Program Studi Perancangan Arsitektur.  1991. Teori Perancangan Urban. Fakultas Pasca Sarjana, Institut Teknologi Bandung, Bandung.
  • Tri Rochadi, Mohammad, et al. 1991.  “Teori Perancangan Urban”, Laporan Tidak Diterbitkan. Bandung: Program Pasca Sarjana Institut Teknologi Bandung,1991.


Sumber: Zaki (2005), Studi Karakteristik Pejalan Kaki Dalam Penyediaan Fasilitas Pejalan Kaki Di Pusat Kota Malang, Skripsi Universitas Brawijaya Tahun 2005.
Post a Comment