Model Kampung Nelayan di Thailand


Oleh Sulaiman Tripa, Peneliti pada Pusat Studi Hukom Adat Laot Unsyiah, Banda Aceh.

SEBAGAI peserta pelatihan Training Program on International and Regional Development of Relevance to Small-Scale Fisheries and Fishing Communities in Asia, yang digelar International Collective Support of Fishworkers (ICSF) bersama Sustainable Development Foundation (SDF), di Bangkok, Thailand, pada 9-15 Januari lalu di, saya berkesempatan berkunjung ke Kampung Ban Klong, yakni Kampung 5 dari Ban Chan Sub-District, Klung District, Provinsi Chanthaburi, bagian selatan Thailand.

Kelima kampung tersebut memiliki 1.300-an rumah tangga, sekitar 3.700-an penduduk, yang terbentuknya sekitar 200 tahun lalu ketika pemukim Cina menggunakan area ini sebagai dasar mata pencaharian perikanan mereka. Sebagai nelayan, mereka terlibat dalam perikanan pesisir, termasuk perikanan tangkap dan budidaya. Kata “Klung” sendiri dari kata “Klong”, merupakan istilah yang mulai digunakan untuk menggambarkan kondisi banjir karena dataran rendah kawasan ini.



Tujuan penting kami di bawa ke sana pada Jumat (13/1) lalu, adalah untuk melihat bagaimana relasi pengaturan hak atas tanah dan sungai di tempat tinggal mereka. Pertama, sebagian besar kawasan tersebut merupakan hutan mangrove (utamanya bakau), hanya satu kampung yang dapat diakses lewat darat, sementara lainnya lewat laut atau sungai. Kedua, sebagian besar hutan bakau tersebut sudah dinyatakan sebagai hutan yang dilindungi. Ketiga, di kawasan ini terjadi juga kerusakan bakau karena pembuatan arang dan kegiatan budidaya. Dan, keempat, orang-orang yang tidak terlibat dalam budidaya, mereka melakukan perikanan tangkap dengan alat tangkap tradisional yang tidak melanggar hukum.

Untuk sampai di kampung yang sangat berhasil memelihara aturan komunitas itu, saya bersama teman-teman peserta pelatihan memakai bus carteran dari Bangkok. Perjalanannya mencapai 300 km lebih, dengan lama tempuh sekitar 4 jam. Jalan dengan jarak lebih dari 300 km itu, semuanya dua jalur, dengan masing-masing jalur memiliki dua hingga tiga lajur. Kecepatan mobil rata-rata bisa mencapai 120 km/jam.

Sebelum tiba ke lokasi yang dituju, kami menginap satu malam di Khao Saming Paradiso Resort, kawasan Khao Saming. Pagi-pagi sekali, Jumat (13 Januari 2012, saya harus menyeberang dengan perahu motor nelayan (dari penginapan ke tempat penyeberangan mencapai 45 menit perjalanan). Tidak ada alternatif lain, hanya perahu motor yang bisa mengakses ke sana. Perjalanan dari penyeberangan ke kampung Ban Klong sekitar 1,5 jam lagi.

Kampung 5 dari Ban Chan Sub-district tersebut terletak dalam satu kawasan yang dikelilingi lebatnya hutan bakau. Bila kita lihat sekeliling, kampung itu seperti tak berpenghuni. Setelah dekat dengan jalur masuk, kita bisa melihat semacam simpang yang terdapat pasar. Lalu masuk dari sana mungkin sekitar 15 atau 20 mil masuk ke dalam.

Dalam perjalanan menuju ke lokasi tersebut, di sisi kiri dan kanan dipenuhi oleh lebatnya pohon bakau. Di dekat itu, mereka mengembangbiakkan kepiting.

Sekitar jam 09.00 WIB (tidak ada perbedaan waktu antara Thailand dengan Banda Aceh), saya sampai di Kampung 5 (Ban Klong) dan diterima di rumah kepala kampung, Choo-Chart Jhitnama. Kelima kampung ini dikelilingi oleh hutan bakau yang sangat lebat.




Sumber: http://aceh.tribunnews.com
Post a Comment