Belajar dari Kasus Kebakaran untuk Tata Ruang DKI Jakarta

Sejarah Kebakaran di DKI Jakarta
Kamis, 2 Maret 2015:

Belum genap seminggu, Jakarta sudah empat kali dilanda kebakaran. Kebakaran pertama terjadi di Wihara Dharma Bakti, Petak Sembilan, Jembatan Lima, Jakarta Barat, Senin (2/3/2015). Si jago merah habis melahap seisi rumah ibadah yang biasa disebut Kelenteng Petak Sembilan. 

Kebakaran di Klenteng tertua di Jakarta itu diduga karena lilin yang menyala terjatuh di atas kain dan menyambar ke seisi ruangan klenteng. Klenteng ini dinilai bukan hanya sekadar tempat ibadah, tetapi juga warisan budaya yang berusia 400 tahun.

Kamis, 5 Maret 2015:
Hunian padat penduduk di Jalan Sabeni, RW 14, Kelurahan Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (5/3/2015) sore terbakar. Kebakaran meluas dengan cepat dan menghanguskan ratusan rumah.

Hunian padat penduduk di Jalan Sabeni, RW 14, Kelurahan Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (5/3/2015) sore terbakar. Kebakaran meluas dengan cepat dan menghanguskan ratusan rumah.

Kamis, 5 Maret 2015:
Kebakaran kedua melanda bangunan di belakang Gajah Mada Plaza, Jalan Pemuda I, Jakarta Pusat, Kamis (5/3/2015). Gas rumah makan yang berada di belakang pusat perbelanjaan tersebut meledak dan menyambar ke rumah makan lainnya dan rumah indekos yang berada di sekitaran tempat kejadian perkara. Pemadam kebakaran berhasil memadamkan si jago merah sebelum merambat ke Gajah Mada Plaza.

Kamis, 5 Maret 2015:
Masih di hari yang sama, Kamis (5/3/2015), tepatnya pukul 17.00 WIB, kawasan dekat Pasar Tanah Abang dilanda kebakaran. Kebakaran diduga berasal dari korsleting listrik yang terjadi pada salah satu rumah. Akibatnya, percikan api yang berasal dari korsleting listrik itu menyambar ke bahan mudah terbakar. Api semakin membesar karena rumah di pemukiman itu kebanyakan berbahan dasar kayu dan seng. Dari kejadian ini, tercatat ada dua korban meninggal terkena ganasnya api.

Jumat, 6 Maret 2015:
Keesokannya, Jumat (6/3/2015), tepatnya pukul 11.00 WIB, giliran kawasan Pangkalan Jati, Cipinang Melayu, Jakarta Timur yang merasakan ganasnya si jago merah. Api berasal dari gudang penyimpanan bahan kimia. Api membesar karena gudang tersebut berada tepat di tengah-tengah pemukiman padat penduduk.

Penyebab Kebakaran
Padat Penduduk Pakar Tata Kota, Nirwono Joga, menjelaskan kawasan padat penduduk di Jakarta menjadi penyebab utama sering terjadinya kebakaran di Jakarta.
Menurut survei komuter pada tahun 2014, tercatat penduduk malam hari di DKI Jakarta sebesar 10.075.310 orang sedangkan penduduk DKI Jakarta siang hari sebesar 11.201.620 orang. 

Menurut Joga, sebagian pembangunan pemukiman tidak mengikuti rencana tata kota yang baik. Provinsi DKI Jakarta dinilai tidak mengikuti rencana tata ruang yang sudah diatur.

"Dalam kasus kebakaran di Tanah Abang, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta harusnya mengikuti peraturan yang sudah dibuat terkait tata kota," ungkap Joga saat dihubungi oleh Kompas.com, Jumat (6/3/2015).
Untuk itu, kasus kebakaran yang terjadi belakangan ini seolah memberi pesan kepada Pemprov untuk melakukan perbaikan di sektor perencanaan tata ruang kota. Perbaikan, menurut Joga, dapat dilakukan lewat tiga tahap.

"Pertama harus ada perbaikan lingkungan, kedua pengaturan dan perencanaan kawasan lingkungan, dan ketiga permukiman kembali," tutur Joga.
Rumah Susun Sebagai Salah Satu Solusi 

Kasus kebakaran di Tanah Abang bukanlah yang pertama kali. Pada tahun 2003 silam, kawasan ini pernah dilahap si jago merah. Tahun ini, kawasan yang terdapat pasar tekstil terbesar di Asia Tenggara, kembali dilanda kebakaran.

Joga mengatakan kawasan Tanah Abang merupakan kawasan niaga yang harusnya dapat dibangun dengan tata kelola kota yang baik. Sebagai pusat perdagangan yang juga dipadukan dengan pemukiman, rumah susun, menurut Joga adalah jawaban dari permasalahan kawasan Tanah Abang selama ini.

"Rumah susun dapat dijadikan solusi kawasan Tanah Abang. Rumah susun memiliki sistem kelistrikan dan gas yang rapi," jelas Joga. 

Joga mencontohkan pembangunan kawasan Tanah Abang dapat dilakukan seperti di negara Taiwan atau Hongkong. Kedua negara tersebut memiliki pusat perniagaan yang dipadukan oleh hunian dalam satu gedung.

"Misal lantai satu dan lima itu untuk perdagangan. Lantai selanjutnya bisa untuk hunian," saran Joga.


Sumber:
http://megapolitan.kompas.com/read/2015/03/06/20350721/Belajar.dari.Kasus.Kebakaran.untuk.Tata.Ruang.DKI.Jakarta.; Diakses 03 September 2015.
Post a Comment