Beberapa Pengertian Persepsi

Wojowarsito dan Purwodarminto (1980) memberikan makna kata ‘perception’ sebagai pengamatan, di mana tiap orang memiliki pengamatan ataupun pandangan yang berbeda. Sebagai sebuah konsep, makna persepsi tidak lain adalah proses dengan mana seseorang atau sekelompok orang memberikan muatan makna tertentu atas pentingnya sesuatu peristiwa atau stimulus tertentu yang berasal dari luar dirinya.
Allison (dalam Wahab, S.A, 1997), mengemukakan bahwa persepsi adalah lensa konseptual (conceptual lense) yang pada diri individu berfungsi sebagai kerangka analisis untuk memahami suatu masalah. Persepsi ini pada gilirannya juga akan mempengaruhi terhadap penilaian mengenai status peringkat yang terkait pada sesuatu isu.
Pareek (dalam Sobur, 2003), mengatakan bahwa persepsi dapat didefinisikan sebagai proses menerima, menyeleksi, mengorganisasikan, mengartikan, menguji, dan memberikan reaksi kepada rangsangan pancaindra atau data.



Haryadi dan Bobi Setiawan (1995), mengatakan bahwa sumber persepsi lahir dari proses kognisi, afeksi dan kognasi. Kognisi berarti  proses penerimaan, pemahaman dan pemikiran terhadap lingkungan; afeksi meliputi proses perasaan, emosi keinginan serta nilai terhadap lingkungan; kognasi adalah tindakan dan perlakuan terhadap lingkungan sebagai respon terhadap kognisi dan afeksi. Hasil dari kegiatan kognisi merupakan schemata yaitu struktur dan rangkuman subjektif pengetahuan, pemahaman dan pengertian terhadap lingkungan, dengan kata lain sebagai kegiatan coding yang memungkinkan individu menyerap, memahami dan mengartikan lingkungan dimana ia sedang berinteraksi.

Persepsi sebagai proses kognitif digunakan oleh seseorang untuk memahami dunia sekitarnya. Gambaran kognitif tersebut merupakan suatu bagian tafsiran pribadi, dimana objek tertentu yang dipilih individu untuk perannya yang utama, dirasakan dalam sikap seorang individu (Gibson dalam Suwarto, FX, 1999). Proses terjadinya persepsi tersebut digambarkan sebagai berikut:

Bagan Proses Terjadinya Persepsi (Suwarto, FX, 1999)


Dari gambar di atas terlihat bahwa persepsi bertautan dengan cara mendapatkan pengetahuan khusus tentang objek atau kejadian pada saat tertentu, maka persepsi terjadi kapan saja stimulus menggerakan indera. Persepsi mencakup kognisi (pengetahuan). Jadi persepsi mencakup penafsiran objek, tanda dan orang dari sudut pengalaman yang bersangkutan. Dapat dikatakan bahwa persepsi mencakup penerimaan stimulus, pengorganisasian stimulus dan penerjemahan atau penafsiran stimulus yang telah diorganisir dengan cara yang dapat mempengaruhi perilaku dan membentuk sikap.

Walgito (2002), meyatakan bahwa persepsi adalah suatu proses yang didahului oleh proses penginderaan, yaitu merupakan proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indera. Namun proses itu tidak berhenti begitu saja, melainkan stimulus tersebut diteruskan dan proses selanjutnya merupakan proses persepsi. Stimulus yang diindera itu kemudian diinterpretasikan, sehingga individu menyadari, mengerti tentang apa yang di indera itu. 

Karena persepsi merupakan aktivitas yang integrated dalam diri individu, maka apa yang ada dalam diri individu akan ikut aktif dalam persepsi. Berdasarkan hal tersebut, maka dalam persepsi dapat dikemukakan karena perasaan, kemampuan berfikir, pengalaman individu tidak sama, maka dalam mempersepsi suatu stimulus, hasil persepsi mungkin akan berbeda antara individu satu dengan individu lain. Persepsi itu sifatnya individual (Davidoff; Rogers dalam Walgito, 2002).

Persepsi terhadap lingkungan mempengaruhi hubungan individu dengan lingkungannya. Menurut Walgito (2002), sikap individu terhadap lingkungannya dapat berupa: 1) individu menolak lingkungannnya, yaitu bila individu tidak sesuai dengan keadaan lingkungannya, 2) individu menerima lingkungan, yaitu bila keadaan lingkungan cocok dengan keadaan individu, dan 3) individu bersikap netral, apabila individu tidak mendapat kecocokan dengan keadaan lingkungan, tetapi dalam hal ini individu tidak mengambil langkah-langkah yang lebih lanjut yaitu bagaimana sebaiknya bersikap.



Daftar Pustaka:
Haryadi dan Bobi, S., 1995. Arsitektur Lingkungan dan Perilaku. PPSLH, Dirjen Dikti, Depdikbud, Jakarta.
Sobur, Alex, 2003. Psikologi Umum. CV. Pustaka Setia, Bandung.
Suwarto,  FX, 1999. Perilaku Keorganisasian. Penerbitan Universitas Atma Jaya, Yogyakarta.
Wahab, S.A, 1997. Analisis Kebijaksanaan: dari Formulasi ke Implementasi Kebijaksanaan Negara. Bumi Aksara, Jakarta.
Walgito, B, 2002. Pengantar Psikologi Umum. Penerbit ANDI, Yogyakarta.
Wojowarsito dan Purwadarminto, 1980. Kamus Lengkap Inggeris-Indonesia Indonesia-Inggeris. Hasta, Bandung.
Tesis Agus Suyatno, Persepsi Stakeholder Terhadap Dampak Kebijakan Kawasan Berikat Pulau Batam Dari Aspek Fisik, Sosial Dan Ekonomi (Magister Perencanaan Kota dan Daerah (MPKD-UGM Tahun 2005)

Post a Comment