Cara Jepang Tanggap Bencana


  • Simulasi Gempa, rutin 2 Kali dalam Setahun, diajarkan bagaimana cara melakukan bantuan napas buatan (ECR) dan tips menghadapi bencana gempa dan kebakaran
  • Mewajibkan bagi setiap perusahaan untuk menyediakan perlengkapan keamanan bagi setiap pekerjanya yang akan diperlukan dalam menghadapi gempa, (helm, pluit, handuk, plastik, tali, senter, makanan tahan lama, dan air mineral yang dikemas dalam sebuah tas ransel).
HARI Selasa, 13 Maret 2012 tepat pukul 10.00 waktu Tokyo, pengeras suara di gedung tempat saya berkantor mengeluarkan peringatan terjadinya gempa. Semua yang berada di dalam gedung diimbau untuk berlindung di bawah meja. Bagi yang akan lari ke luar gedung diinstruksikan tidak terburu-buru dan jangan menggunakan lift.

Berulang-ulang suara peringatan berbunyi dan sangat jelas terdengar. Beberapa menit kemudian pihak pengelola gedung mengumumkan bahwa terjadi kebakaran di lantai 2. Personel pengamanan sedang memeriksa lokasi kebakaran. Agar terhindar dari bahaya kebakaran, pihak pengelola gedung menginstruksikan kepada kami untuk ke luar meninggalkan gedung melalui tangga menuju titik pertemuan (assembling point) di luar gedung sesuai lokasi yang telah ditentukan.

Bergegas saya dan juga seluruh pekerja yang ada di dalam gedung turun ke lantai dasar, mengenakan helm di kepala.

Suasana yang saya ceritakan ini bukanlah kejadian sesungguhnya, melainkan simulasi dalam menghadapi gempa dan kebakaran.



Simulasi tersebut memang sudah direncanakan oleh pihak pengelola gedung dan merupakan agenda rutin yang diadakan minimal dua kali setahun. Hal yang sama juga dilakukan oleh seluruh pengelola gedung yang ada di Jepang, di mana simulasi menghadapi gempa dan kebakaran merupakan agenda wajib sesuai instruksi pemerintah.

Dalam simulasi yang saya ikuti saat itu, kami juga diajarkan bagaimana cara melakukan bantuan napas buatan (ECR) dan tips menghadapi bencana gempa dan kebakaran. Keseriusan Pemerintah Jepang dalam menghadapi bencana gempa bumi merupakan hal yang wajar, mengingat Jepang merupakan daerah yang rawan gempa.

Sebagai informasi, 20 persen gempa di dunia terjadi di Jepang. Mulai tahun ini khusus di Tokyo, simulasi menghadapi gempa lebih ditingkatkan lagi frekuensinya. Mengingat sesuai prediksi para ahli gempa di Jepang, dalam kurun waktu empat tahun ke depan akan terjadi gempa besar di Tokyo.

Usaha meminimalisir risiko bencana juga dilakukan dengan mewajibkan bagi setiap perusahaan untuk menyediakan perlengkapan keamanan bagi setiap pekerjanya yang akan diperlukan dalam menghadapi gempa. Perlengkapan paling minim yang harus disediakan adalah helm yang akan dikenakan saat gempa terjadi.

Di perusahaan tempat saya bekerja, para pegawainya telah dilengkapi dengan satu set perlengkapaan keamanan yang harus dikenakan apabila gempa terjadi. Terdiri atas sebuah helm, pluit, handuk, plastik, tali, senter, makanan tahan lama, dan air mineral. Semua barang tersebut dimasukkan dalam sebuah tas ransel.

Dari simulasi yang saya ikuti, setidaknya ada dua pelajaran yang, menurut saya, sangat baik untuk dicontoh, yaitu: Pelajaran pertama adalah perlunya dilakukan simulasi rutin menghadapi bencana gempa, tsunami, dan kebakaran di seluruh gedung perkantoran serta sekolah, terutama yang bangunannya bertingkat. Dengan rutin melakukan simulasi, diharapkan membuat kita lebih siap dan terkoordinir apabila terjadi bencana gempa dan tsunami.

Pelajaran kedua adalah perlunya dipersiapkan perlengkapan keamanan bagi setiap pegawai perkantoran, terutama yang berlokasi di gedung bertingkat. Setidaknya helm dan pluit dapat disediakan, karena harganya murah. Helm sangat bermanfaat untuk melindungi kepala dari reruntuhan atap atau benda-benda berbahaya yang mungkin terjatuh saat gempa terjadi. Sedangkan pluit bermanfaat untuk memberikan tanda apabila kita terjepit di antara bangunan yang roboh akibat gempa, sehingga tim penyelamat dapat segera mengetahui keberadaan kita.


OLEH TEUKU MUNANDAR, Office Administrator Bank Indonesia di Jepang, melaporkan dari Tokyo .
Post a Comment