Pembangunan Industri Pariwisata

Tulisan berikut ini merupakan Hasil Tulisan Hazmi Srondol di http://wisata.kompasiana.com (diakses: 18 September 2013; Jam 10:42). Secara pribadi tulisan ini membuka pemahaman saya tentang mengapa Industri Pariwisata "Tidak Dikembangkan" dalam arti khusus (Pusat/APBN) melainkan seolah-olah dibiarkan dan berjalan sendiri sebagai hasil lain dari sebuah pembangunan. Tulisan ini juga dapat membuka wawasan kita mengenai dampak atau sisi negatif dari sebuah Industri Pariwisata, melengkapi Artikel tentang Dampak Pembangunan Pariwisata (Hasil Rumusan dari Beberapa Penelitian).



Industri Pariwisata, Sebuah Perdebatan dengan Prabowo Subianto
Malam itu saya sedikit keras memprotes dan mempertanyakan program aksi pak Prabowo Subianto lewat Partai Gerindranya. Protes ini lebih khusus membahas tentang tidak dimasukannya “industri pariwisata” secara vulgar dan harfiah dalam program tersebut.

Kata “pariwisata” itu pun hanya nyempil di point 5.3 yang berbunyi :”Membangun infrastruktur, fasilitas pendukung dan kawasan industri nasional termasuk industri maritim dan pariwisata.

“Padahal, pak. Kementrian Pariwisata merupakan salah satu kementrian yang paling minim korupsinya. Lha wong uang yang masuk dari wisatawan kan larinya ke masyarakat, bandara, hotel-hotel dan warung-warung. Bukan ke kantong menterinya” kataku memperjelas.
“Belum lagi, pak. Malaysia sudah mencapai 25 juta turis. 25 juta loh, pak! Belum lagi Thailand juga sudah mencapai 22 juta. Ketinggalan jauh bener kita ini” kataku semakin meninggi dan berapi-api. Bersemangat 45.

Selang beberapa detik, aku menurunkan sedikit tensi dan mengatur nafas sambil melirik beliau. Hadeh, Prabowo cuman mangut-mangut saja. Anteng di kursinya. Hmm, mesti mengeluarkan data-data lagi supaya ngiler denger banyaknya duit yang masuk dari pariwisata.

“Begini, pak. Mosok sejak jaman kampanyenya pak Harto dengan Sapta Pesona-nya hingga lewat jaman ramalan kiamat Suku Maya, kita tidak beranjak naik dari angka 7 atau 8 juta wisatawan luar negeri. Padahal pak, di Thailand sendiri pendapatan dari pariwisata sudah ratusan trilyun, bahkan prosentasenya sangat besar menyumbang GNP mereka loh, pak” kataku sambil melirik lagi.

Ya, data ini memang sudah kupersiapkan sebagai senjata untuk bertanya. Memang sangat membelalakan mata melihat angka-angkanya. Bagi yang penasaran detail jumlahnya, monggo cek di wikipedia. Hehehe…

“Iya, anda betul. Mas Srondol tidak salah…” katanya sambil masih manggut-manggut.
“Lha kalau saya benar, saya nggak salah, kenapa tapi kok program aksinya tidak digubah?” tanyaku penasaran. Penasaran campur geregetan dengan sikap anteng dan manggut-manggutnya ini. Sekilas terselip senyum tertahan dari bibir pak Prabowo ini. Siyaaaal!
“Begini, mas. Nggak usah emosi dulu. Tenang… saya mau jelaskan” katanya kali ini dengan senyum lebar. Kayaknya sudah bobol bendungan menahan tawanya. Hiks.
“Saya nggak emosi, pak. Saya lagi bersemangat” jawabku ngeles dikit. Hehehe…
“Saya setuju dengan apa yang disampaikan mas Srondol. Saya tidak membantah. Cuman yuk perhatikan baik-baik. Bagaimana insfrastruktur jalan di Indonesia? Bagaimana bandara dan terminal-terminalnya? Bagaimana rumah-rumah tradisonalnya?” katanya memulai.
“E, iya…”
“Pernah coba ke Soewarna? Pelabuhan Ratu? Berapa jam anda mesti sampai disana dari Jakarta?” tanyanya balik.
“E… lama sih pak. 6 jam kalau lagi ngebut”
“lha itu kalau ngebut, nyatanya malah banyak macet dimana-mana. Bahkan di Bali pun sudah mulai macet. Bagaimana turis menikmati keindahan alam kita kalau begitu?” tanyanya lagi.
“Belum lagi ada lihat ke Padang, Manado atau kota-kota wisata di Indonesia dulu. Bangunan adat dan tradisionalnya malah sudah mulai jarang dan berganti rumah bergenteng seng. Saya kok malah merasa atap rumbia lebih indah dilihat. Terasa betul cita rasa Indonesianya” jelasnya menambahin.

Hadeh, ibarat catur—saya sudah masuk dalam jebakan pembukaan Sisilia. Byuh.

“Lalu coba anda cek café-café disekitar tempat wisata. Pasti dibuat café ala kebarat-baratan. Ditambah banyaknya fast food luar yang standar layanannya seperti negara para tamu asing. Lha apa bedanya mereka saat dinegara sendiri dan saat berada di Indonesia? Apa nggak lebih baik sisi tradisonalnya diangkat. Biar mereka merasa berada di Indonesia…” jelasnya panjang lebar kali tinggi.
“Maksudnya pakai gelas bambu dan mangkok bathok kelapa seperti novel Wiro Sableng gitu, pak?”
“Ya, boleh saja. Apalagi kalau unik dan alami” jelasnya lagi.
Aku hanya terdiam saja. Sepertinya mulai mati kutu.
“Okelah kalau sudah terlanjur membuat banyak café ala barat. Tapi yang sudah terlanjur itu juga sepi. Bagaimana mau ramai, wong nongkrongnya sambil deg-degan karena diancam ormas-ormas kayak FPI. Lha gimana pariwisata mau maju?”
DEG! FPI pulak ini kenapaaah!
“Jadi, mas Srondol. Bukan bermaksud mengesampingkan industri pariwisata. Hanya kita lebih realistis. Kelak jika infrastruktur semakin bagus, bandara perintis semakin banyak, bisa buat pesawat kecil sendiri untuk jarak pendek, kemanan terjamin. Insya Allah, dunia pariwisata Indonesia pasti terbawa maju kok” jelasnya.

Penjelasan yang serasa seperti sedang menjaga perasaanku saja. Hehehe…

---,

Ya, kuakui aku masih kurang puas dengan pembahasan dengan pak Prabowo ini. Semestinya pararel lah dibangun antara infrastruktur dengan mengundang pariwisatanya. Apalagi Indonesia sedang hangat-hangatnya di isyukan sebagai “Atlantis” yang hilang.

Lha jangankan yang buktinya sudah semakin jelas mengarah ke Indonesia. Cyprus, sebuah negeri antah berantah saja hanya dengan modal isyu sebagai “Atlantis” mampu mengundang puluha juta wisatawan. Mosok Indonesia tidak bisa memanfaatkan momentum besar seperti itu.

Nah, usai ngobrol-ngobrol di Bukit Hambalang—kediaman pak Prabowo. Kebetulan saya mendapat undangan untuk mereportase kegiatan Drive Test jaringan Indosat di Denpasar,Bali besok. Tepat hari kamis lusa (19/9/2013) bersama teman-teman wartawan dan Blogger Reporter Indonesia lainnya seperti mas Ahmed Tsar dan mas Syaifuddin Sayuti.

Sekalian ambil undangan dan mengurus keberangkatan, saya berkesempatan bertemu pak Indar Atmanto, salah satu direktur Indosat yang notabene adalah expert IP (internet Protocol) dan jaringan telekomunikasi nasional.

Maksudnya sih mengadu soal pandangan pak Prabowo ini perihal industri pariwisata.

“Padahal, pak. Kalau mau mencontek sedikit jaman Orde Baru—saya fikir ada baiknya departemen telekomunikasi dan pariwisata menjadi satu lagi. Deparpostel lah namanya dulu. Kan bisa tuh melalui deparpostel mengirimkan jadwal atau agenda pariwisata nusantara via SMS semua operator. Jadi wisatawan lokal juga bisa tahua agenda penting apa yang sedang terjadi… Jadi pembangunan infrastruktur barenganlah dengan pembangunan industri pariwisata” kataku memanasi.
“Lha itu kan teknisnya, mas. Soal teknis dan tekhnologi telekomunikasi Indonesia, siaplah. Cuman prinsipnya pak Prabowo bukan seperti itu” kata pak Indar
“Lho emang prinspipnya seperti apa pak?” kataku mulai kebingungan.
“Gini mas, konsep Prabowo kan jelas mengarah ke ekonomi kerakyatan. Coba cek ulang, siapa pemilik hotel-hotel di tempat wisata? Sebarapa banyak persentase kepemilikan warga negara Indonesia?” tanya pak Indar balik.

Hadeh, mulai menetes dah keringat di dahi.

“Belum lagi gimana teleponnya, SMS nya, internetnya? Memangnya mereka tidak butuh searching di google, info hotel di Agoda atau trip advisor. Belum lagi kalau narsis di FB. Gimana coba?”
“Ya iya sih, pak. Hehehe..” kataku sambil cengengesan saja.
“Ya memang infrastruktur mesti dibenahi. Jalan, pesawat dan telekomunikasi buat pondasi awalnya. Bila perlu dipelajari bagaimana konsep uang devisa dari turis juga mengucur ke masyarakat kelas bawah. Setelah itu barulah bisa ngebut di industri pariwisata” jelasnya lebih detail.

Yah, sudahlah. Sepertinya saya kalah telak 2-0. Memang darah muda sepertiku ini mesti mengakui banyak hal yang mesti dipelajari dan sering-sering ngumpul dengan para senior. Supaya kebijaksanaan dari pengalaman mereka bisa menjadi pelengkap energi yang meluap-luap dan sudut pandang yang lebih luas…

Baiklaaaah…

---,

“Jadi berangkat kamis, pak?” tanya istriku.
“Iya, sambil menyelam minum air. Sekalian uji jaringan 3G dan cek kemacetan di Bali kayak kata pak Prabowo” jelasku.
“Trus, ngapain bersihin lensa teropong DSLR yang 300mm? Mau dibawa juga?”
“Oh, itu buat foto tower BTS. Biar keliatan pucuknya”
“Halah, bilang aja mo motretin bule berjemur ama nunggu Miss World lewat” sindirnya.

Hehehehe…

[Bekasi, 17 September 2013]

---,

Post a Comment