Permukiman Kumuh Tetap Mewarnai Wajah Jakarta

Jakarta, Kompas - Permukiman kumuh tetap mewarnai wajah ibu kota DKI Jakarta. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tampaknya tidak berdaya lagi memberikan penawaran penyediaan rumah susun, terutama terhadap korban kebakaran di kawasan Karanganyar maupun Kebon Melati, keduanya di Jakarta Pusat. Akibatnya, permukiman kumuh itu tetaplah berpotensi menyebabkan musibah kebakaran.

Munculnya permukiman kumuh itu terlihat kembali, Selasa (3/8) siang, baik di kawasan bekas kebakaran Karanganyar, Kecamatan Sawah Besar, maupun kawasan Kebon Melati, Kecamatan Tanah Abang.

Puing-puing rumah yang ludes terbakar mulai dibersihkan. Korban kebakaran tampak bersusah payah merobohkan tiang-tiang beton penyangga atap. Dinding-dinding rumah dibongkar paksa. Tak peduli panas dan debu, mereka terus bekerja membongkar reruntuhan rumah yang masih tersisa.



Puing-puing itu dikumpulkan. Sejumlah besi beton yang digunakan untuk fondasi rumah diselamatkan untuk dijual kepada penadah besi tua.

Selanjutnya, puing-puing bekas diangkut oleh petugas Dinas Kebersihan DKI Jakarta dengan menggunakan truk-truk besar. Mereka tetap ingin tinggal berdesak-desakan di situ.

Bahkan, dengan memanfaatkan lahan sempit, mereka akan membangun kembali rumahnya menjadi dua tingkat, seperti sediakala. Di kawasan Karanganyar, sebagian warga malah sudah mulai membangun rumah-rumahnya kembali.

Paryadi (40-an), warga RT 006 RW 02 Karanganyar, menuturkan, sebagian warga korban kebakaran mulai membangun rumah kembali. Tentu, warga mampu saja yang membangun kembali rumah-rumah itu.
"Saya bingung. Semua harta benda habis terbakar. Warga di sini juga enggak punya pilihan lain. Biar sempit, mereka tetap ingin tinggal di sini," katanya.

Kusnaedi, salah satu korban kebakaran, mengatakan, penghuni rumah-rumah di kawasan itu memang padat. Satu rumah bisa dihuni 2-3 keluarga. Maka, rumah-rumah perkampungan ini biasanya bertingkat.

Permukiman kumuh
Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Kota Jakarta Pusat Saptastri Ediningtyas Kusumadewi mengatakan, sebanyak 138 RW (rukun warga) dari 364 RW di Jakarta Pusat tergolong permukiman kumuh. Permukiman kumuh itu tersebar di 24 kelurahan yang terdapat di delapan kecamatan.

Kawasan permukiman padat tersebar di Kelurahan Petojo Selatan dan Utara (Kecamatan Gambir); Kelurahan Karanganyar, Mangga Dua Selatan, dan Kartini (Kecamatan Sawah Besar); serta Kelurahan Utan Panjang, Cempaka Baru, Serdang, Kemayoran, Harapan Mulya, dan Sumur Batu (Kecamatan Kemayoran).

Selain itu, permukiman kumuh juga terdapat di Kelurahan Kramat, Paseban, Kenari, Kwitang, Bungur, dan Senen (Kecamatan Senen) dan Kelurahan Rawasari (Kecamatan Cempaka Putih). Ada juga di Kelurahan Petamburan, Tanah Abang, Galur, Kampung Rawa, Tanah Tinggi, dan Johar Baru.

"Jakarta Pusat merupakan wilayah yang sangat dekat dengan pemerintahan pusat. Sekitar 60 persen wilayahnya menjadi tempat usaha sektor perdagangan sehingga sangat menarik bagi pendatang dan pencari kerja. Karena tidak punya tempat tinggal, akhirnya mereka mendiami wilayah-wilayah seperti pinggiran kali dan daerah padat," jelas Saptastri.

Sementara itu, dari 409 RW di Jakarta Utara, sebanyak 134 RW di antaranya termasuk dalam kategori kumuh. Kepala Seksi Integrasi Pengolahan dan Desiminasi Statistik BPS Jakarta Utara Eryanti mengatakan, banyak warga Jakarta Utara tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sehingga dikategorikan miskin.

Eryanti menjelaskan, indikasi kemiskinan ditandai dengan kurang luasnya ukuran lantai, pendapatan per kapita rumah tangga rendah, lokasi fasilitas air minum dan kamar mandi kurang memadai, serta tidak mampu makan tiga kali sehari.

BPS Jakarta Utara menyebutkan, penduduk miskin tersebar di enam kecamatan, yakni Pademangan sebanyak 14.604 jiwa, Penjaringan 37.266 jiwa, Tanjung Priok 13.413 jiwa, Koja 32.337 jiwa, Kelapa Gading 2.677 jiwa, dan Cilincing 29.499 jiwa.(PIN/OSA)

Read More in: Permukiman Kumuh Tetap Mewarnai Wajah Jakarta
Kompas, Metropolitan, Rabu, 04 Agustus 2004
Post a Comment